Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Saturday, May 6, 2017

Lima Unsur dalam Fiksi yang Mesti Kita Tahu


Dunia fiksi adalah dunia kebebasan tanpa batas. Kita bisa pergi ke mana saja, melanglang buana semau kita, menghentikan waktu dan menjalankannya kembali, semua itu bisa kita lakukan kapan saja. Kita juga bisa menciptakan makhluk-makhluk aneh yang belum sempat tuhan ciptakan, membangun sebuah pulau yang tak pernah tercatat dalam sejarah, mematikan tokoh protagonis, memberi penghargaan kepada tokoh antagonis, membalik segalanya, merusak segalanya, mendekonstruksi realita sehari-hari dengan imajinasi. Ya, dengan menulis fiksi, kita bisa melakukan apa saja.

Namun, kita juga mesti tahu, bahwa sebebas apa pun kita menulis fiksi, ada beberapa panduan yang mesti kita ikuti.

Penulisan fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Kesemua unsur tersebut adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat, indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama membaca cerita kita.
Kelima unsur penting itu adalah sebagai berikut:

  • Karakter
  • Plot/Alur
  • Seting/Latar
  • Tema
  • Style/Gaya

Jika kelima unsur di atas terjalin mulus dan terpilin dengan begitu rapi, kita akan bisa membuat cerita fiksi yang—katakanlah—berhasil.

So, here we go!

KARAKTER

Kebanyakan orang merasa bahwa karakterisasi adalah unsur paling penting dalam naskah fiksi. Penggambaran karakter yang kuat bisa membuat pembaca merasa memiliki hubungan emosional dengan tokoh karakter yang kita karang itu. Karakter yang kuat di sini maksudnya bukan berarti harus berbadan six pack seperti model iklan L-Men, melainkan karakter itu memiliki keunikan, tidak stereotip, dan mampu membuat pembaca berfikir bahwa karakter tokoh karangan kita itu benar-benar ada di dunia nyata. Cerita fiksi tanpa adanya karakterisasi atau penokohan, adalah cerita yang bisa dikatakan sangat tidak menarik.

PLOT/ALUR

Plot juga merupakan unsur yang penting dalam cerita fiksi, yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Plot tidak bisa disamakan dengan jalan cerita, tapi lebih kepada hubungan sebab-akibat. Cerita seperti: “Saya bangun tidur, melamun sebentar, kemudian beranjak mendekati jendela.” Ini namanya jalan cerita, bukan plot. Jika cerita itu diubah seperti ini: “Saya bangun tidur dan merasa tenggorokan saya kering, Dengan langkah perlahan saya langsung menuju kulkas.” Inilah yang dinamakan plot. Ada hubungan sebab-akibat di dalam cerita itu. Itu hanya contoh sederhananya. Jadi di sini sudah jelas betapa pentingnya plot dalam cerita fiksi. Plot yang baik dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan cerita kita.

SETING/LATAR

Seting adalah informasi yang menggambarkan waktu dan tempat dalam sebuah cerita fiksi. Kapan cerita itu terjadi dan di mana kisah itu berlangsung. Hal ini penting sekali, sebab dengan adanya seting, pembaca bisa lebih menghayati cerita fiksi yang kita buat itu. Dengan seting (tempat dan waktu) kita juga bisa menciptakan karakter tokoh dengan baik, dan dari seting kita juga bisa menentukan konflik demi mendapatkan emosi pembaca. Seting yang baik bukanlah cuma dijadikan sebagai latar belakang sebuah cerita fiksi saja, melainkan juga merupakan satu kesatuan dari cerita. Saling berkesinambungan.

TEMA

Tema adalah inti dari apa yang sebenarnya ingin kita ceritakan. Atau, bisa juga disebut sebagai ide pokok dari rangkaian cerita fiksi yang ingin kita tuliskan. Kita akan kesulitan menulis jika kita belum memiliki tema. Dengan tema yang menarik, pembaca akan antusias dengan tulisan kita. Jadi, jika kita ingin menulis, tentukan tema sekarang juga.

STYLE / GAYA

Apabila kita ingin menulis tentang tema yang—katakanlah—sudah klise, misalnya kisah tentang pertaubatan seorang pendosa, kita tetap bisa membuat cerita itu menjadi menarik.

"Lho, kok bisa?"
"Ya bisa, dong!"
"Bagaimana caranya?"
"Gampang!"
"Gampang bagaimana? Kasih tahu, dong!”
"Sabar, dong!"
"Aduuuh... bikin penasaran aja, deh!"
"Hehehe... gampang. Jawabannya adalah dengan gaya tulisan kamu!"

Ya, dalam menulis cerita fiksi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat cerita fiksi kita menjadi menarik, salah satunya adalah: gaya menulis. Mungkin kita bisa menulis cerita dengan menggunakan gaya punggung... eh, ini mah renang! Maaf, maksud saya, kita bisa menulis cerita dengan berbagai macam gaya. Komponen-komponen dalam gaya bisa berupa sudut pandang yang unik, narasi yang aduhai, rima yang memesona, ending yang mengejutkan, dan lain sebagainya. Tapi, kita mesti ingat, jangan terlalu sering bermain-main dengan gaya, sebab takutnya kita malah dianggap sebagai badut atraksi kata-kata. Gaya hanyalah salah satu hal yang dapat membantu menjadikan cerita fiksi kita menjadi semakin memukau.

KESIMPULAN

Apa sih pentingnya kita memahami unsur-unsur fiksi tersebut? Bukankah lebih baik kita duduk di depan komputer dan mulai menulis, lantas biarkan energi kreativitas kita yang akan melakukan hal tersebut?

Hmm... Sebenarnya dengan kita paham dan akrab dengan unsur-unsur fiksi tersebut, itu akan menguntungkan kita sebagai seorang penulis. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Mengetahui semua unsur-unsur ini akan memudahkan kita untuk berbicara dengan cerdas mengenai menulis fiksi.
  • Kita akan dapat mengidentifikasi masalah dengan lebih mudah.
  • Memahami unsur-unsur ini akan memberikan kita perspektif baru sebagai pembaca fiksi.
  • Jika unsur-unsur cerita fiksi adalah bahan bangunan, maka kita harus tahu apa yang harus kita kerjakan selanjutnya.

Ya, kamu mungkin bisa saja cuma duduk dan langsung menulis dengan kreativitas yang—katakanlah—masih mentah, dan bisa jadi hasil tulisan itu akan menjadi tulisan yang baik. Namun, semakin kamu memahami unsur-unsur di atas tadi, semakin lengkaplah kamu untuk menjadi seorang penulis fiksi yang baik. Semoga bermanfaat![]

Tuesday, November 1, 2016

Kalau Kamu Bingung Memulai Sebuah Cerpen, 5 Langkah Ini Akan Membantumu

Tips Memulai Menulis Cerpen

Banyak yang bilang bahwa untuk mulai menulis cerpen itu tidak mudah.

Sebagian besar cerpenis yang ingin mulai menulis cerpen kebanyakan hanya menatap layar kosong dengan tatapan seperti orang linglung.

Tema cerpen sudah ada, karakter dan konfliknya juga sudah ada, bahkan ending-nya pun sudah ditemukan.

Namun, untuk memulainya kok ya sulit banget.

Saking sulitnya memulai sebuah cerpen, di saat lokakarya menulis kreatif, pasti ada saja seseorang yang mengacungkan tangannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana caranya memulai sebuah cerpen?”

Nah, di sini Fiksiplus akan menampilkan 5 langkah sederhana untuk memulai sebuah cerpen.

Berikut adalah langkah-langkahnya.

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan dialog

Bisa dibilang ini adalah cara yang lumayan mudah.

Cobalah untuk memulai cerpen kamu dengan sebuah dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh kamu.

Contohnya seperti cerpen Bunga dari Peking karya Zelfeni Wimra ini:

“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek.


Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan Deskripsi Tokoh

Langkah ini juga bisa kamu coba. Pikirkanlah sejenak, kira-kira karakter tokoh dalam ceritamu seperti apa.

Raut wajahnya seperti apa? Penampilannya rapih atau berantakan? Apakah dia memiliki aroma yang khas?

Contohnya seperti cerpen Kitab Salah Paham karya Puthut EA ini:

Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna.

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi

Jika kamu masih bingung dengan dialog dan deskripsi tokoh, langkah ini siapa tahu cocok untuk kamu.

Ambil koran yang berada di dekatmu. Pilih berita yang menurutmu menarik dan pas dengan tema cerpen kamu. Tulis ulang berita itu untuk menjadi awal cerpenmu.

Contohnya seperti cerpen Sirkus karya Agus Noor ini:
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)
Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami .... 

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan Adegan

Banyak pembaca yang menyukai sebuah cerita yang dimulai dengan adegan. Kamu bisa mencobanya.

Contohnya seperti cerpen Kematian Seorang Istri  karya Puthut EA ini:
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang ada adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian.
Atau, seperti cerpen Rembulan dalam Cappucino karya Seno Gumira Ajidarma ini:
Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya.

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan deskripsi latar tempat

Mungkin langkah terakhir ini agak riskan bagi penulis pemula. Sebab, jika tidak dieksekusi dengan baik, bisa jadi cerpenmu akan membosankan.

Namun, jika ditulis dengan baik, bisa jadi cerpenmu malah akan membuat para pembacamu tertarik.

Contohnya seperti cerpen Cinta Tak Ada Mati  karya Eka Kurniawan ini:
Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.

Atau, seperti cerpen Sebatang Pohon di Tengah Padang karya Seno Gumira Ajidarma ini:
Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.


Selesai.

Sebenarnya masih banyak langkah-langkah yang lain untuk memulai sebuah cerpen.

Namun, kami rasa lima langkah di atas sudah cukup untuk kamu praktikkan.

Kamu boleh mencobanya satu persatu. Pilihlah kira-kira yang sesuai dengan tema cerpenmu. Jika langkah yang satu kurang cocok, kamu boleh menggunakan langkah yang berikutnya.

Intinya, jangan pernah takut mencoba.

Semoga kita semua bisa terhindar dari pembukaan cerpen yang klise seperti “Matahari pagi bersinar dengan indah” atau “Jam weker berdering dan dia terbangun dari tidurnya”.

Sekian.

(Sumber ilustrasi: Freepik)

Tulisan Macet di Tengah Jalan? Atasi dengan Cara Ini!


Kita pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block.

Namun, apa sih writer’s block itu?

Ada yang bilang bahwa writer’s block adalah kutukan. Bahkan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa writer’s block itu cuma mitos.

Namun, hampir semua orang pasti pernah mengalami hal seperti ini: duduk di depan layar komputer, jari-jari sudah gatal untuk segera menekan tuts di keyboard, dan segala macam gagasan berkelindan di dalam tempurung kepala, tapi tak ada satu kata pun yang lahir. Ide tak juga kunjung mewujud.

Dan, tentu saja, layar itu tetap saja kosong.

Writer’s block bisa dibilang misterius. Ia datang secara tiba-tiba tanpa pernah kita duga. Kadang ia datang dari awal ketika kita ingin menulis, sehingga membuat kertas atau layar komputer kita tetap saja kosong dari awal sampai akhir.

Kadang ia datang di saat tulisan kita sudah lumayan banyak, sehingga kita sudah seperti pengendara motor yang sedang kehabisan bensin, mogok ditengah jalan tanpa bisa melakukan apa-apa.

Bahkan ia juga pernah datang di saat-saat terakhir ketika tulisan kita sedikit lagi akan selesai. Bisa dibayangkan betapa menjengkelkannya jika hal tersebut terjadi oleh kita.


Hernowo, penulis buku Mengikat Makna Update, pernah mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya writer’s block itu ada banyak.

Di antaranya adalah: pertama, miskin bahasa atau kata-kata. (Punya banyak ide, tapi tak bisa dikeluarkan karena kata-kata yang tersimpan di dalam diri tak bisa menampung ide-ide hebat tersebut).

Kedua, tak memiliki topik yang mengesankan (bermakna) untuk ditulis. Kita sudah kepengin atau kebelet menulis, komputer sudah dinyalakan, tapi yang mau kita tulis tidak menggairahkan diri kita, ya, akhirnya enggak ada yang bisa dikeluarkan dari diri kita.

Ketiga, tidak berani dan enggan mencicil menulis. Sebenarnya kalau kita mau pelan-pelan mengeluarkan bahan-mentah tulisan, enggak ada yang namanya writer’s block itu.


Bagi Eka Kurniawan, penulis novel Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, fenomena writer’s block serupa seorang pejalan yang terjebak di tengah belukar.

Belukar itu bisa merupakan rumpun yang belum terjamah, bisa pula merupakan belantara jalan raya yang tanpa petunjuk.

Untuk mengatasinya cukup sederhana, yaitu kita harus kembali lagi dari awal dan pertanyakan kembali apa tujuan kita menulis.

Kata Eka Kurniawan, “Saya harus tahu mengapa saya masuk ke belukar tersebut: mengapa saya menulis sesuatu. Saya juga harus tahu apa yang harus saya bawa untuk membabat belukar, saya harus tahu segala yang diperlukan untuk menuliskannya. Dan saya tak akan terjebak selamanya di dalam belukar, jika saya tahu kemana arah yang hendak saya tuju: kemana saya ingin membawa tulisan saya.”

Secara ringkas, mungkin tips-tips untuk menghindari writer’s block bisa Fiksiplus paparkan sebagai berikut:

Tentukan ide

Ini sangat penting. Ibarat ingin pergi ke suatu tempat, kita mesti tahu dulu tujuan kita. Kalau tidak, bisa-bisa kita bingung dan diam di tempat, atau paling buruknya kita akan tersesat. Itu sebabnya, sebelum menulis, kita mesti tahu dulu apa sih sebenarnya yang ingin kita tulis.

Tulis apa yang kamu tahu

Ya, untuk seorang penulis pemula, sepertinya rumus “tulislah apa yang kamu tahu” itu memang bisa dijadikan sebagai panduan.

Kadang kita memang selalu ingin menulis segalanya. Tentang mimpi, tentang nuklir, tentang seorang anak yang mengidap penyakit dislexia, tentang revolusi Perancis, tentang anarkis di Spanyol, tentang konspirasi sekte Mason Bebas, tentang si Google Guys Larry Page dan Sergey Brin, tentang penduduk asli Badui dalam, tentang sejarah Batavia, tentang Batik, tentang silsilah Nyi Roro Kidul, dan lain sebagainya.

Semuanya ingin kita tulis, seolah-olah hidup kita sebentar lagi akan selesai. Padahal pengetahuan kita akan itu semua tidaklah terlalu banyak, bahkan bisa dibilang amat sedikit.

Itu sebabnya, ketika kita ingin menulis sesuatu yang tidak kita tahu, writer’s block pasti akan datang menyapa kita. Waspadalah! Waspadalah!

Cari data

Jika kita tetap ngotot untuk menulis cerpen atau novel tentang—misalnya—konspirasi sekte Mason Bebas, padahal pemahaman kita akan hal itu sangatlah sedikit, apa boleh buat, kita harus cari data yang banyak.

Kita bisa searching di Google dan cari sebanyak-banyaknya situs yang membahas tentang tema yang ingin kita tulis.

Kita ketikkan saja kata kunci seperti Freemason, Zionis, Teodor Herzl, Kabala, Talmud, dan lain semacamnya.

Atau mungkin bisa juga kita baca buku-buku yang membahas tentang permasalahan tersebut. Catat segala hal yang menurut kita penting. Insya Allah, dengan banyaknya data yang kita punya, writer’s block akan mudah diatasi.

Paragraf pertama begitu menggoda

Buatlah paragraf pertama yang bagus—setidaknya bagus menurut kita.

Sebab, paragraf pertama yang bagus bisa menyemangati kita untuk membuat paragraf-paragraf yang berikutnya. Gairah kita akan menjadi semakin terpacu.

Sebaliknya, jika paragraf pertamanya sudah jelek, kita tentu jadi malas untuk membuat paragraf yang berikutnya.

Itu sebabnya, paragraf pertama adalah unsur yang sangat penting dalam memulai sebuah tulisan.

Seperti yang sudah kita tahu bersama, bahwa Gabriel Garcia Marquez butuh waktu yang sangat lama hanya untuk membuat paragraf pertama, dan setelah paragraf pertama sudah selesai, maka ia akan menulis terus tanpa bisa dihentikan.

Untuk membuat paragraf pertama yang bagus, tentu saja kita harus banyak berlatih.

Kita bisa membaca tulisan-tulisan para penulis yang—katakanlah—sudah senior. Kalau perlu, tiru saja sampai sama persis.

Setelah itu kita modifikasi dengan gaya kita. Tambal-sulam dengan kalimat-kalimat yang kita punya. Jangan khawatir, tindakan copy the master bukanlah tindakan kriminal. Bahkan penulis yang sudah terkenal pun pernah melakukan hal yang demikian. Saat ini kita sedang tidak berbicara tentang plagiat dan orisinalitas. Saat ini kita sedang belajar menulis. Itu saja.

Macet di tengah jalan?

Kalau ditengah jalan tiba-tiba tulisan kita macet, sabar dan tidak usah panik.

Barangkali memang sudah saatnya kita untuk berhenti sejenak.

Seduh kopi dulu jika kita memang pecandu kopi. Kalau perlu rebus indomie dulu, sebab siapa tahu saja kita sedang lapar. Atau shalat dulu. Biar pikiran kita menjadi segar kembali.

Namun, sejenak saja, jangan lama-lama. Takutnya nanti kita malah tercerabut dari tulisan kita. Sebab, writer’s block sering juga terjadi karena hal ini.

Ketika kita rehat terlalu lama, dan ketika kita mencoba untuk menulis kembali, tiba-tiba saja kita jadi bingung untuk melanjutkan tulisan kita itu.

Feel kita jadi berbeda. Segala yang kita rasa jadi tak sama. Kita seolah-olah harus memulai lagi dari awal. Huft.

Kalau terjadi seperti ini, kita bisa membaca tulisan kita itu dari awal, resapi setiap kalimat yang sudah kita tulis, rasakan segala rima yang sudah kita ciptakan, sampai akhirnya feel kita kembali seperti semula dan semangat kita kembali menyala.

Menemukan jalan buntu? Matikan komputermu!

Jika tulisan kita benar-benar macet dan seolah-olah kita seperti terjebak di jalan buntu dan kita tidak bisa bergerak ke mana-mana, padahal segala daya dan upaya sudah kita kerahkan, mungkin memang sudah saatnya untuk segera mematikan layar komputer kita atau menutup buku tulis kita.

Buka pintu kamar, dan bermainlah keluar rumah. Tak usah terlalu dipaksakan, yang penting kita sudah berusaha. Sebab, segala sesuatu yang terlalu dipaksakan itu tidak baik. Apa pun itu.

Pergilah keluar rumah dan saksikanlah segala peristiwa yang terjadi di sekitar kita: sekumpulan bocah bermain kejar-kejaran, seekor kucing mengeong di pinggir jalan, tukang sayur sedang berjualan, dan lain sebagainya.

Semoga saja dengan menyaksikan segala hal yang terjadi di sekeliling kita, energi menulis kita menjadi terpompa kembali. Dan jalan buntu yang semula menghadang kita, akan dengan mudah kita hancurkan.

Sekian. Semoga bermanfaat. Selamat menulis![Fiksiplus.com]

(Sumber ilustrasi: Freepik)

Tips Menulis Cerpen: Panduan Lengkap untuk Pemula

Tips Menulis Cerpen

Cerpen atau cerita pendek adalah salah satu jenis prosa yang banyak diminati oleh para penikmat sastra.

Setiap hari minggu, koran-koran nasional maupun lokal selalu menampilkan cerpen-cerpen yang ditulis oleh para sastrawan.

Website-website yang menampilkan cerpen selalu dipenuhi pengunjung.

Intinya, kehadiran cerpen di Indonesia selalu dirayakan. Baik cerpen sastra maupun cerpen popular, selalu digemari oleh para pembaca di Indonesia.

Ada beberapa alasan mengapa cerpen begitu digemari, salah satunya adalah formatnya yang pendek.

Para pembaca tidak perlu menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menuntaskan sebuah cerpen.

Jadi, tidak mengherankan jika banyak orang yang ingin bisa menulis cerpen. Siapa sih yang tidak mau menulis sesuatu yang digemari oleh banyak orang? Kamu tentu mau juga, kan?

Namun, ternyata menulis cerpen itu tidak semudah menggaruk-garuk kepala yang gatal.

Ada kiat-kiat tertentu yang harus dipelajari oleh mereka yang ingin mulai menulis cerpen.

Dalam artikel ini, Fiksiplus akan menyajikan tips menulis cerpen yang cocok untuk pemula. Harapannya, setelah membaca tips ini, kamu sudah bisa langsung mempraktikkan dan menyelesaikan sebuah cerpen yang bagus dan layak untuk dibaca.

Namun, sebelum memberikan tips-tips tersebut, Fiksiplus ingin memberikan sedikit penjelasan tentang apa itu cerpen.

Tips Menulis Cerpen

Cerpen adalah karya fiksi. Sebagaimana yang kita tahu, fiksi adalah salah satu karya tulis yang mengandalkan imajinasi.

Novel juga merupakan karya fiksi. Bedanya, novel memiliki format yang cukup panjang, sedangkan cerpen memiliki format yang cukup pendek.

Definisi "pendek" dalam cerpen tentu saja beragam. Namun, menurut Edgar Allan Poe dalam esainya yang berjudul "The Philosophy of Composition", cerpen adalah sebuah cerita yang bisa dibaca hanya dalam sekali duduk.

Sedangkan jika dihitung dari jumlah kata, panjang cerpen berada dalam kisaran 1.000 sampai 10.000 kata.

Kemudian, menurut kamus Merriam Webster, cerpen adalah karya fiksi pendek yang hanya menampilkan sedikit tokoh atau karakter.

Jadi, dari pengertian di atas, kamu sudah bisa memahami apa itu cerpen.

Intinya, cerpen itu adalah cerita pendek. Ceritanya harus pendek. Titik.

Setelah kamu memahami pengertian dari cerpen di atas, sekarang Fiksiplus akan menjelaskan unsur-unsur utama yang terdapat dalam cerpen.

Alasan mengapa kamu harus mengetahui unsur-unsur dalam cerpen adalah agar kamu bisa mendapatkan kemudahan ketika ingin menulis sebuah cerpen.

Sebagaimana seorang koki yang ingin memasak, tentu dia harus mengetahui bahan-bahan utama yang ingin dia masak. Agar masakannya lezat dan maknyus.

Begitupula dengan seorang cerpenis. Dia harus mengetahui bahan-bahan utama yang membentuk sebuah cerpen.

Berikut adalah unsur-unsur utama dalam cerpen yang seharusnya kamu tahu.

Tips Menulis Cerpen

Karakter

Karakter adalah seseorang atau sesuatu yang menjadi tokoh utama dalam cerpen. Kita biasa menyebutnya protagonis.

Karakter bisa berupa manusia, robot, hantu, hewan, mainan, benda-benda mati, dan lain sebagainya. Tidak terbatas.

Latar

Latar dalam cerpen terbagi dua: waktu dan tempat.

Jadi, latar adalah waktu dan tempat berlangsungnya sebuah cerita.

Latar waktu adalah kapan peristiwa dalam cerita itu terjadi: pagi, siang, atau malam?

Latar tempat adalah di mana peristiwa dalam cerita itu terjadi: di kamar tidur, supermarket, stasiun kereta api, taman kota, penjara, toko bunga, bandara, dan lain sebagainya. Tidak terbatas.

Jadi, latar waktu adalah tentang "kapan", sedangkan latar tempat adalah tentang "di mana".

Plot

Plot adalah rangkaian cerita dari awal sampai akhir yang berasal dari relasi sebab-akibat.

Plot bukan hanya alur dari A sampai Z. Plot adalah relasi sebab-akibat yang jika tidak ada A maka Z tidak akan pernah terjadi.

Plot yang baik dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan sebuah cerita.

Konflik

Konflik adalah hal yang amat penting dalam cerita fiksi.

Tidak ada konflik artinya tidak akan ada cerita.

Pembaca tidak akan pernah tertarik dengan sebuah cerita yang tidak terdapat konflik di dalamnya.

Konflik terdiri dari dua macam: konflik internal dan konflik eksternal.

Konflik internal adalah konflik yang berasal dari dalam diri sang karakter.

Konflik eksternal adalah konflik yang berasal dari luar diri sang karakter.

Tema

Tema adalah ide sentral atau ide utama yang disajikan dalam cerpen.

Tema cerpen bisa bermacam-macam. Kamu bisa menemukan beragam tema dari sekitar kehidupan kamu: tema cinta sejati sepasang kekasih, pengkhianatan seorang sahabat, kejujuran, Tuhan, bayangan masa lalu yang tidak pernah hilang, dan lain sebagainya. Tidak terbatas.


Demikianlah unsur utama yang membentuk sebuah cerpen. Kelima unsur tersebut harus kamu ingat baik-baik.

Sekarang adalah saatnya Fiksiplus memberikan tips menulis cerpen yang cocok untuk para pemula.


Tips Menulis Cerpen

Membaca banyak cerpen

Tidak bisa tidak. Ini adalah tips yang harus kamu lakukan. Kamu tidak akan mungkin bisa menulis cerpen jika kamu tidak pernah membaca cerpen.

Kegunaan membaca banyak cerpen adalah agar kamu tahu bagaimana sih karakter sebuah cerpen itu.

Kamu bisa membaca cerpen di koran-koran minggu, website-website yang menampilkan cerpen, atau
membeli buku-buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh para sastrawan.

Sebenarnya sih anjuran untuk membaca cerpen banyak-banyak tidak perlu ditulis ya. Sebab, semua orang tentu tahu bahwa jika ingin menguasai sesuatu, seseorang itu harus mempelajarinya sesering mungkin.

Namun, Fiksiplus merasa harus menulis anjuran ini. Sebagai pengingat bagi mereka yang ingin mulai menulis cerpen.

Sebab, seperti yang pernah Stephen King bilang, jika kamu tidak memiliki waktu untuk membaca, kamu tidak akan memiliki waktu untuk menulis.

Temukan karakter utamamu

Sebelum memulai sebuah cerpen, kamu harus menemukan karakter utamamu. Apakah dia manusia atau bukan? Jika dia manusia, apakah dia laki-laki atau perempuan? Jika dia seorang perempuan, apakah dia sudah menikah atau masih anak-anak?

Kamu tidak akan bisa menulis sebuah cerpen jika kamu tidak memiliki seorang karakter. Segala macam cerita adalah melulu tentang karakter. Tidak bisa tidak.

Karena kamu sedang mencoba menulis cerpen, alangkah baiknya karakternya jangan banyak-banyak. Semakin sedikit karakter semakin baik. Temukan 1 atau 2 karakter.  Jangan lebih dari itu. Kecuali jika kamu ingin menulis novel, kamu baru boleh memiliki karakter banyak-banyak.

Apa yang karaktermu inginkan? Alasannya?

Setiap manusia tentu menginginkan sesuatu, meskipun hanya untuk segelas air.

Setelah kamu menemukan karakter untuk cerpenmu, sekarang berikan dia keinginan. Apa yang dia inginkan? Dan, sertakan juga alasannya.

Misalnya, seorang perempuan yang ingin menjadi seorang balerina. Alasan mengapa dia ingin menjadi seorang balerina adalah karena dia ingin seperti bundanya yang juga pernah menjadi seorang balerina terkenal

Berikan rintangan agar karaktermu sulit mewujudkan keinginannya

Setelah kamu memberikan keinginan untuk karaktermu, sekarang berikan dia rintangan. Jangan dibikin mudah.

Pembaca akan cepat bosan jika membaca sebuah cerita yang karakternya dapat dengan mudah menggapai keinginannya.

Sebaliknya, pembaca akan tertarik membaca sebuah cerita yang karakternya harus bersusah payah dulu untuk menggapai keinginannya.

Inilah yang sering disebut sebagai konflik.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa tidak akan ada cerita jika tidak ada konflik.

Karena kamu sedang mencoba menulis cerpen, alangkah baiknya konfliknya cukup satu saja. Jangan banyak-banyak. Sebab, cerpen itu ruangnya sempit. Jadi, pergunakanlah baik-baik.

Misalnya, seorang perempuan yang ingin menjadi balerina. Rintangannya adalah, perempuan itu memiliki tubuh yang gendut.

Apa bisa seorang perempuan bertubuh gendut menjadi seorang balerina yang membutuhkan keluwesan dalam melakukan sebuah gerakan?

Tulis kalimat pertama yang kuat

Kamu sudah memiliki seorang karakter untuk cerpenmu. Kamu juga sudah mengetahui apa yang karaktermu inginkan. Dan, kamu juga sudah memberikan rintangan kepada karaktermu.

Sekarang adalah waktunya menulis kalimat pertama.

Nah, langkah kali ini bisa dibilang tidak gampang. Ya, menulis kalimat pertama yang baik itu tidak gampang.

Kamu harus sering-sering mempelajari kalimat pertama dari cerpen-cerpen yang kamu baca.

Tidak harus puitis, sebab saat ini kamu sedang menulis cerpen, bukan puisi. Jadi, jangan terlalu pusing untuk memilih kata-kata yang indah.

Tulis kalimat pertama yang akan menggoda pembaca untuk meneruskan membaca cerpen yang sudah kamu buat.

Jika kalimat pertamamu biasa-biasa saja, bisa dipastikan pembaca akan malas melanjutkan membaca.

Jadi, usahakan buatlah kalimat pertama yang tidak biasa-biasa. Caranya adalah berlatih, berlatih, dan terus berlatih.

Kalau bisa, di kalimat pertama itu kamu sudah menghadirkan konflik yang akan terjadi dalam cerita.

Gunakan panca inderamu

Menulis dengan panca indera? Maksudnya?

Maksudnya adalah ketika kamu sedang menulis, gunakanlah panca inderamu agar cerpenmu terasa lebih hidup.

Jika karaktermu sedang berada di kamar, bagaimana suhu udara di sana, apakah sejuk atau gerah? Apakah ada bunyi-bunyian di ruangan itu? Detik jarum jam, mungkin. Atau suara dengung kipas angin?

Inilah yang sering dinamakan sebagai deskripsi.

Penulis adalah pelukis yang menggunakan kata-kata sebagai mediumnya.

Jadi, usahakan berikan deskripsi cerpenmu dengan kata-kata yang tepat.

Gunanya deskripsi adalah agar pembacamu bisa merasakan apa yang karaktermu rasakan, bisa mendengar apa yang karaktermu dengar, dan lain semacamnya.

Berikan ending terbaik

Setelah kamu berada di akhir ceritamu, usahakan berikan ending terbaik.

Ending terbaik itu macam-macam. Ada yang ending terbuka, ending mengejutkan, ending membingungkan, dan lain sebagainya.

Bisa dibilang, kekuatan cerpen itu ada di ending-nya.

Ending yang baik akan membuat cerpen itu akan terus mengabadi dalam benak pembaca.

Namun, sekali lagi, tentu saja kamu tidak akan bisa langsung membuat ending terbaik dalam sekali coba. Kamu harus berlatih berkali-kali dan membaca banyak-banyak cerpen yang memiliki ending terbaik.

Revisi! Revisi! Revisi!

Sebagai penulis, hal pertama yang harus kamu pahami adalah bahwa tidak ada tulisan yang ditulis sekali jadi.

Setiap tulisan harus ada revisi. Tidak bisa tidak.

Jika kamu sudah menyelesaikan cerpenmu, baca sekali lagi dengan saksama.

Jika kamu menemukan kata yang kurang tepat, gantilah dengan kata yang tepat.

Jika kamu menemukan logika cerita yang tidak masuk akal, gantilah dengan logika cerita yang masuk akal.

Bisa dibilang, revisi adalah pekerjaan yang lebih memerlukan waktu lama ketimbang menulis.

Jika kamu sudah merasa cukup melakukan revisi, berikan cerpenmu itu kepada seorang teman yang kamu yakin dia adalah pembaca yang kritis. Mintalah masukan kepadanya. Catat semua masukannya. Jika ada masukannya yang baik, gunakanlah. Jika menurutmu masukannya kurang cocok, kamu bisa mengabaikannya.

Intinya, revisi adalah hal penting dalam sebuah proses penulisan.


Demikianlah tips menulis cerpen yang bisa Fiksiplus berikan untukmu. Semoga kamu bisa menulis sebuah cerpen dengan tips di atas.

Jika tips di atas ada yang kurang dan masih ada yang ingin kamu tanyakan lebih jauh soal tips menulis cerpen, Fiksiplus sangat bersedia untuk berdiskusi dengan kamu di kolom komentar.


Oke, selamat menulis cerpen![Fiksiplus.com]

(Sumber ilustrasi: Freepik)