Monday, July 3, 2017

5 Metode Penokohan dalam Cerita Fiksi

5 Metode Penokohan dalam Cerita Fiksi

Ada dua jenis penokohan atau karakterisasi: langsung dan tidak langsung. Penokohan langsung adalah penggambaran karakter yang dilakukan secara langsung dan ekpslisit kepada pembaca. Penokohan tidak langsung adalah penggambaran karakter yang menggunakan 5 metode berbeda untuk menjelaskan kepribadian karakter.

Berikut adalah 5 metode penokohan dalam penulisan cerita

Omongan sang tokoh

Kepribadian sang tokoh bisa dilihat dari kata-kata yang meluncur dari mulutnya. Kata-kata yang dipilih sang tokoh bisa menunjukkan kecerdasan atau kebodohannya, juga bisa menjelaskan latar pendidikannya. Lewat omongan sang tokoh bisa terlihat apakah dia pribadi yang santai, serius, atau mudah gugup. Jika omongannya terdengar ragu-ragu, dia mungkin sedang malu atau sedang tidak yakin terhadap sesuatu. Kita bisa menilai kepribadian seseorang dari cara bagaimana dia berkomunikasi.

Pikiran sang tokoh

Dalam cerita fiksi, para pembaca bisa melihat ke dalam pikiran-pikiran sang tokoh cerita. Ketika kita mengetahui pikiran sang tokoh, kita bisa melihat kepribadian dirinya dan bagaimana cara dia melihat dunia. Melalui pikiran sang tokoh, kita bisa tahu apakah dia adalah seseorang yang rasional atau irasional, percaya diri atau minderan, bahagia atau sedih, pendendam atau pemaaf, dan lain sebagainya.

Hubungan sang tokoh dengan tokoh yang lain

Bagaimana sang tokoh memengaruhi orang lain? Bagaimana reaksi orang-orang itu terhadap sang tokoh? Jawaban atas kedua pertanyaan ini menunjukkan kualitas kepribadian sang tokoh. Dari sana kita bisa tahu bagaiamana sang tokoh menangani dirinya sebagai makhluk sosial, bagaimana hubungan dirinya dengan yang lain. Apakah sang tokoh itu membuat orang lain merasa senang, bahagia, nyaman, atau risih, jijik, takut, dan marah?

Tindakan sang tokoh

Tindakan dan perilaku sang tokoh menunjukkan kepribadian dirinya. Bagaimana tindakan dan perilaku sang tokoh ketika sedang berinteraksi secara fisik dengan orang lain. Tindakan atau perilaku yang ditunjukkan sang tokoh adalah hasil dari apa yang dia rasakan di dalam dirinya. Apakah dia tipe orang yang agresif, tenang, pemberani, penakut, teledor, atau impulsif?

Penampilan sang tokoh

Penampilan sang tokoh bisa menunjukkan kepribadian dirinya. Gaun sang tokoh atau kaos oblong sang tokoh adalah sarana untuk menampilkan kepribadiannya. Jika sang tokoh sering mengenakan pakaian yang mahal, itu bisa menunjukkan latar pendidikan dan kekayaannya, sebaliknya jika sang tokoh mengenakan pakaian yang rombeng bisa menunjukkan latar kehidupannya.

Begitulah 5 metode penokohan dalam cerita fiksi. Sekarang, ayo ciptakan tokoh ceritamu sendiri![Fiksiplus.com]

Sunday, July 2, 2017

Haiku: 4 Fakta yang Mesti Kamu Tahu


Haiku adalah puisi yang sangat singkat dan sederhana. Namun, meskipun singkat dan sederhana, ternyata haiku adalah jenis puisi yang cukup sulit dibuat.

Berikut adalah 4 fakta tentang haiku yang mesti kamu tahu.

Fakta Haiku #1: Haiku Berasal dari Jepang

Haiku adalah puisi yang berasal dari jepang. Puisi haiku menjadi populer pada abad ke-17 dan ke-18 oleh penyair seperti Basho, Busin, Issa, dan Sikki. Istilah "haiku" diciptakan oleh Sikki. Sedangkan Basho adalah penyair yang mempengaruhi bentuk haiku.

Fakta Haiku #2: Haiku Memiliki Struktur.

Puisi haiku terdiri dari tiga larik atau baris: larik pertama berisi 5 suku kata, larik kedua berisi 7 suku kata, dan larik ketiga berisi 5 suku kata. Jadi, total suku kata dari ketiga larik itu adalah 17 suku kata. Pola 5-7-5 adalah syarat yang harus dipenuhi dalam haiku. Dan, haiku tidak peduli dengan rima.

Fakta Haiku #3: Haiku Menggunakan Bahasa Minimalis

Karena formatnya yang sangat singkat, haiku bergantung pada ungkapan yang sederhana. Setiap kata dalam haiku harus dipilih dengan sangat cermat dan memiliki peran yang berarti. Jadi, dalam haiku, jangan sampai asal-asalan dalam memilih kata.

Fakta Haiku #4: Haiku Fokus pada Citra atau Gambar

Haiku, sama seperti puisi imajis, sangat fokus pada citra atau gambar. Setiap haiku menyajikan sebuah gambaran yang bisa tertangkap dengan menggunakan lima panca indera. Seperti pelukis yang menciptakan gambar dengan garis dan warna, penyair haiku menciptakan gambar dengan kata-kaa. Secara tradisional, penyair haiku berusaha menangkap gambar di alam, seringnya sih yang menggambarkan suasana musim tertentu.

Demikianlah 4 fakta soal haiku. Semoga bermanfaat.[Fiksiplus.com]

Friday, May 19, 2017

5 Cara Kreatif Memilih Nama yang Tepat untuk Karakter Fiksimu


Nama adalah identitas paling penting yang harus dimiliki seseorang. "Siapa namamu?" adalah pertanyaan pertama ketika kita berkenalan. Nama adalah pintu masuk pertama untuk memahami seseorang.

Karena itulah setiap penulis fiksi terkadang merasa pusing ketika harus memberikan nama untuk karakter fiksinya. Mereka tidak ingin memilih nama yang asal-asalan. Mereka ingin memilih nama yang tepat. Dan, ternyata, memilih nama yang tepat untuk karakter itu tidaklah mudah.

Ya, selain harus berpikir tentang tema, plot, konflik, dan sebagainya, setiap penulis juga harus berpikir tentang nama yang harus diberikan kepada karakter ciptaannya. Malah, terkadang proses memilih nama ini membutuhkan waktu yang lebih banyak ketimbang memikirkan hal yang lain.

Berikut adalah 5 cara kreatif memilih nama yang tepat untuk karakter fiksimu.

1. Kombinasi Nama Penulis Terkenal

Cara ini bisa dibilang cukup menyenangkan, sebab kamu hanya perlu membuat daftar nama-nama penulis terkenal. Setelah itu, langkah selanjutnya adalah melakukan kombinasi nama. Misal nama penulisnya adalah Dee Lestari dan Asma Nadia, nama karaktermu akan menjadi: Nadia Lestari. Atau misal nama penulisnya adalah Raditya Dika dan Pramoedya Ananta Toer, nama karaktermu akan menjadi: Dika Pramudia. Bagus, kan?

2. Kombinasi Nama Artis Terkenal

Sama seperti cara di atas, hanya saja ini adalah nama artis terkenal. Misal nama artisnya adalah Maudy Ayunda dan Dian Sastrowardoyo, nama karaktermu akan menjadi: Dian Ayunda. Misal nama artisnya adalah Raffi Ahmad dan Aliando Syarief, nama karaktermu akan menjadi: Raffi Aliando. Cocok banget, kan?

3. Pilih dan Susun Huruf dari Nama Tempat

Ini adalah cara yang lumayan asyik juga, sih. Misal nama tempatnya adalah J-A-G-A-K-A-R-S-A, setelah kita pilih beberapa huruf dan disusun secara acak kita akan mendapat beberapa nama yang lumayan unik: Saka, Aksa, Raka, Arka, Arja, Arga, Arsa, Rajka, dan lain sebagainya. Jangan takut kalau nama yang kita pilih tidak memiliki makna, sebab nama-nama seperti Budi, Rio, Rina, Santi, Susan, dan Tio pun tidak memiliki makna. Iya, kan?

4. Pinjam Nama yang Tertulis di Batu Nisan

Kalau yang ini memang agak horor juga, ya. Hehehe. Tapi enggak horor-horor banget kok kalau kita ke kuburannya siang hari plus beramai-ramai. Soalnya, kita pasti pernah dong ke tempat pemakaman umum, entah itu pas ikut acara pemakaman, atau mengujungi kuburan kerabat menjelang hari raya. Nah, perhatikan deh nama-nama yang tertulis di batu nisan yang ada di sana. Kalau ada yang menarik, catet nama-nama itu. Lagi pula, kalau cara ini kita pakai, ketika novel kita terbit dan terkenal, kan asyik tuh kalau ada yang nanya dari mana nama karakter itu berasal. Kita tinggal jawab, "Dari kuburan!" Hahaha. Unik, kan?

 5. Pakai Nama yang Terdapat di Akun Media Sosial

Sekarang zamannya media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, dan lain-lain. Pengguna media sosial di Indonesia ada banyak banget. Itu artinya ada banyak nama yang bisa kita ambil secara cuma-cuma. Hehehe. Kalau bisa ambil nama yang bukan dari lingkaran pertemanan kita. Soalnya nanti kita dikenain pajak traktiran. Kan enggak seru. Kita cari saja nama-nama dari temennya temennya temennya temen. Cari yang oke. Kalau perlu kombinasikan dengan nama temennya temennya temennya temen yang lain. Gitu. Patut dicoba, kan?

Sekian. Semoga bermanfaat, ya.[Fiksiplus.com]

Wednesday, May 17, 2017

100 Pertanyaan untuk Mewawancarai Karakter Fiksi Kamu


Karakter adalah salah satu unsur paling penting dalam karya fiksi. Keberadaannya sangat menentukan sebuah cerita. Tanpa karakter bisa dipastikan ceritanya tidak akan berjalan dengan baik. Setiap cerita selalu berkaitan dengan karakter.

Coba sebutkan novel-novel terkenal, baik yang laku di pasaran atau pemenang nobel, pasti novel-novel itu memiliki karakter fiksi yang sangat kuat. Harry Potter-nya J.K. Rowling, Minke-nya Pramoedya Ananta Toer, Poirot-nya Agatha Christie, Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle, Rafilus-nya Budi Darma, dan lain sebagainya. Semua karakter-karakter itu begitu hidup seolah-olah mereka adalah manusia berdaging dan bertulang, seperti manusia sungguhan.

Tentu saja untuk menciptakan karakter yang kuat dan menarik itu tidak gampang. Butuh latihan terus-menerus. Nah, salah satu cara untuk memperkuat karakter adalah dengan wawancara. Dengan metode wawancara itulah karakter yang kita buat akan semakin kuat.

Berikut adalah 100 pertanyaan untuk mewawancarai karakter fiksi kamu!

Bagian 1: Dasar

1. Siapa nama lengkapmu?
2. Di mana dan kapan kamu lahir?
3. Siapa orangtuamu? (Nama mereka, pekerjaan, sifat, dsb.)
4. Kamu memiliki saudara kandung? Mereka seperti apa?
5. Di mana kamu tinggal sekarang? Dengan siapa? Jelaskan tempatnya dan orang itu.
6. Apa pekerjaanmu?
7. Tulis desktipsi lengkap mengenai sosokmu. Kamu mungkin ingin memikirkan perihal: tinggi, berat, suku, wajah, warna rambut dan mata, gaya berpakaian, memiliki tato, bekas luka, atau tanda menjijikkan lainnya.
8. Dari strata sosial apa kamu berasal?
9. Kamu punya alergi, penyakit, atau kelemahan fisik lainnya?
10. Kamu menggunakan tangan kanan atau kidal?
11. Seperti apa suaramu terdengar?
12. Apa kata atau kalimat yang sering kamu ucapkan?
13. Apa yang kamu simpan di dalam kantungmu?
14. Apa kamu mempunyai tabiat, sikap buruk, kebiasaan menyebalkan, atau hal lain yang menjelaskan mengenai katakteristik?

Bagian 2: Tumbuh Dewasa

15. Bagaimana kamu menjelaskan masa kecilmu secara umum?
16. Apa ingatanmu yang paling awal?
17. Bagaimana pendidikan yang kamu terima?
18. Apa kamu menikmati sekolah?
19. Di mana kamu mempelajari sebagian besar keahlian atau kemampuanmu yang lain?
20. Saat tumbuh, apa kamu memiliki sosok yang kamu idolakan? Bila ada, deskripsikan sosok idolamu itu.
21. Saat tumbuh, bagaimana kamu berhubungan dengan anggota keluargamu?
22. Sebagai anak-anak, kamu ingin menjadi apa saat dewasa nanti?
23. Sebagai anak-anak, kegiatan apa yang paling kamu sukai?
24. Sebagai anak-anak, pribadi seperti apa yang kamu tunjukkan?
25. Sebagai anak-anak, apa kamu terkenal? Siapa saja temanmu, mereka seperti apa?
26. Kapan dan dengan siapa kamu mendapatkan ciuman pertamamu?
27. Apa kamu masih ‘perawan’? Bila tidak, kapan dan dengan siapa kamu kehilangan kesucian itu?
28. Bila kamu adalah seorang supernatural (contohnya: penyihir, manusia serigala, vampir), ceritakan bagaimana kamu menjadi seperti itu atau kemampuan pertama yang kamu pelajari. Bila kamu hanya manusia biasa, deskripsikan apa yang terjadi di masa lalumu dan yang membuatmu menjadi kamu yang sekarang.

Bagian 3: Pengaruh Masa Lalu.

29. Apa yang kamu anggap sebagai kejadian yang paling penting selama ini?
30. Siapa yang paling berpengaruh untukmu?
31. Keberhasilan apa yang paling hebat untukmu?
32. Apa penyesalan terberatmu?
33. Perbuatan buruk apa yang pernah kamu lakukan?
34. Apa kamu mempunyai catatan kejahatan dalam segala hal?
35. Kapan saat yang paling kamu takuti?
36. Kejadian paling memalukan apa yang pernah menimpamu?
37. Bila kamu bisa mengubah sesuatu dari masa lalumu, apa yang ingin kamu ubah dan mengapa?
38. Apa kenangan terbaikmu?
39. Apa kenangan terburukmu?

Bagian 4: Kepercayaan dan Opini.

40. Pada dasarnya kamu optimis atau pesimis?
41. Apa ketakutan terbesarmu?
42. Pandangan agama apa yang kamu anut?
43. Pandangan politik apa yang kamu anut?
44. Bagaimana pandanganmu mengenai sex?
45. Kamu bisa membunuh? Dalam keadaan apa membunuh menjadi hal yang bisa diterima dan tidak bisa diterima?
46. Menurut opinimu, perbuatan jahat apa yang bisa dilakukan manusia?
47. Kamu percaya akan kebaradaan belahan jiwa dan/atau cinta sejati?
48. Apa yang membuat kamu percaya untuk mencapai kesuksesan hidup?
49. Seberapa jujur kamu terhadpa pemikiran dan perasaanmu (contohnya: kamu menyembunyikan dirimu yang sebenarnya dari orang lain, dan dengan cara apa)?
50. Apa kamu memiliki pandangan lain?
51. Apa ada sesuatu yang secara pasti akan kamu tolak dalam keadaan apa pun? Kenapa kamu menolak melakukannya?
52. Siapa atau apa, apa pun, kamu bersedia mati (atau benar-benar sangat bersedia untuk mati)?

Bagian 5: Hubungan dengan Orang Lain.

53. Secara umum, bagaimana kamu memperlakukan orang lain (sopan, kasar, membuat jarak, dst)? Apa sikapmu dengan mereka berubah tergantung pada seberapa jauh kamu mengenalnya, bila ya, bagaimana?
54. Siapa orang yang paling penting dalam hidupmu, kenapa?
55. Siapa orang yang paling kamu hormati, kenapa?
56. Siapa temanmu? Apa kamu memiliki sahabat? Deskripsikan.
57. Apa kamu memiliki pasangan, atau yang mendekati itu? Bila ya, deskripsikan.
58. Apa kamu pernah jatuh cinta? Bila ya, deskripsikan apa yang terjadi.
59. Apa yang kamu lihat dari calon kekasihmu?
60. Seberapa dekat kamu dengan keluargamu?
61. Apa kamu sudah membangun keluargamu sendiri? Bila ya, deskripsikan. Bila tidak, apa kamu ingin membangunnya? Kenapa tidak?
62. Siapa yang akan kamu temui bila kamu benar-benar membutuhkan bantuan?
63. Apa kamu mempercayai seseorang untuk melindungimu? Siapa, dan kenapa?
64. Bila kau meninggal atau hilang, siapa yang akan kehilanganmu?
65. Siapa yang paling membencimu, mengapa?
66. Apa kamu biasa adu mulut dengan orang-orang, atau kamu menghindari pertikaian?
67. Apa kamu biasa mengambil posisi pemimpin dalam keadaan sosial?
68. Apa kamu senang berinteraksi dengan banyak orang? Kenapa dan kenapa tidak?
69. Apa kamu memedulikan apa yang orang lain pikirkan mengenaimu?

Bagian 6: Disukai dan Tidak Disukai.

70. Apa hobimu?
71. Apa harta yang paling berharga yang kamu miliki?
72. Apa warna kesukaanmu?
73. Apa makanan kesukaanmu?
74. Apa, apa pun itu, kamu suka membaca?
75. Apa pendapatmu mengenai hiburan yang hebat (musik, film, lukisan, dsb)?
76. Apa kamu merokok, mabuk-mabukan, atau menggunakan obat? Bila ya, mengapa? Kamu ingin berhenti?
77. Bagaimana kamu menghabiskan malam minggumu?
78. Apa yang membuatmu tertawa?
79. Apa, apa pun itu, yang membuatmu terkejut dan menyinggungmu?
80. Apa yang kamu lakukan bila kamu terkena insomnia dan harus menemukan sesuatu yang menarik perhatianmu?
81. Bagaimana kamu menyingkapi stres?
82. Apa kamu mengikuti insting, atau kamu selalu membutuhkan rencana?
83. Apa hewan peliharaaanmu?

Bagian 7: Gambaran Diri dan sebagainya.

84. Deskripsikan rutinitasmu di hari biasa. Apa persaanmu bila rutinitasmu terganggu?
85. Apa kekuatan terbesarmu sebagai seseorang?
86. Apa kelemahan terbesarmu?
87. Bila kamu bisa mengubah sesuatu mengenai dirimu, apa yang akan kamu ubah?
88. Secara umum kamu termasuk introvert atau ekstovert?
89. Secara umum kamu tertata atau berantakan?
90. Sebutkan 3 hal yang menurutmu cukup baik kamu lakukan, dan 3 hal yang menurutmu cukup buruk untuk kamu lakukan.
91. Apa kamu menyukai dirimu sendiri?
92. Apa alasanmu berpetualang (atau melakukan hal aneh dan heroik yang dilakukan tokoh RPG)? Apa ada alasan khusus untuk melakukan hal yang berbeda dengan apa yang kamu katakan pada umum? (bila ya, jelaskan dua hal itu dengan alasan…)
93. Apa tujuan yang harus kamu capai dalam sisa kehidupanmu?
94. Di mana kamu melihat dirimu 5 tahun mendatang?
95. Bila kamu bisa memilih, bagaimana kamu akan mati?
96. Bila kamu tahu kamu akan meninggal dalam waktu 24 jam, sebutkan 3 hal yang akan kamu lakukan di sisa waktumu.
97. Apa satu hal paling penting darimu yang ingin dikenang setelah kematianmu?
98. Apa tiga kata yang bisa menggambarkan pribadimu?
99. Apa tiga kata yang biasa digunakan oleh orang lain untuk menggambarkanmu?
100. Bila kamu bisa, masukkan apa yang akan kamu, penulis, berikan kepada tokohmu? (Kamu mungkin mau berbicara seolah-olah dia duduk di sampingmu, dan menggunakan nada yang seharusnya agar ia mendengarkan masukkanmu.)[Fiksiplus.com]




(Sumber ilustrasi: Freepik)

Tuesday, May 16, 2017

Tips Menulis Picture Books: Panduan Lengkap untuk Pemula

Tips Menulis Picture Books
Picture books adalah salah satu genre buku anak yang sangat mementingkan peran ilustrasi—itu sebabnya dinamakan "picture" books. Peran ilustrasi di dalam picture books adalah untuk membuat pembaca lebih mudah memahami isi cerita dan juga mendapatkan kesenangan ketika membaca. Atas dasar itulah maka ilustrasi yang terdapat dalam picture books harus merupakan bagian dari cerita, bukan hanya pemanis dan dekorasi semata.

Namun, meskipun ilustrasi memiliki peran yang cukup penting, peran cerita juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Bahkan, peran cerita pun memiliki porsi yang sama pentingnya dengan ilustrasi—itu sebabnya picture books sering juga disebut sebagai picture story book.

Elemen-Elemen Dasar Picture Books

Ada dua elemen dasar dalam picture books:

1. ELEMEN FIKSI—berkaitan dengan cerita
2. ELEMEN VISUAL—berkaitan dengan ilustrasi

Di artikel ini, kita hanya akan membahas elemen fiksi yang terdapat dalam picture books.

Tips Menulis Picture Books

Elemen-Elemen Fiksi dalam Picture Books

Sebagaimana karya prosa pada umumnya, picture books pun memiliki beberapa elemen fiksi, seperti PLOT, KARAKTER, LATAR, TEMA, GAYA.

PLOT adalah rangkaian cerita sebab akibat yang memiliki struktur awal, tengah, dan akhir. Plot yang baik akan menghasilkan konflik sehingga pembaca menjadi semakin tertarik untuk membaca sampai akhir. Dalam picture books dan buku anak pada umumnya, alur plot sebaiknya kronologis dari awal sampai akhir. Usahakan untuk tidak menggunakan alur maju-mundur atau flashback.

KARAKTER adalah aktor dalam cerita. Karakter dalam buku anak (dalam hal ini picture books) biasanya hanya memiliki 1 atau 2 karakter utama (biasa dibilang protagonis) dan beberapa karakter minor atau karakter pendukung atau biasa dibilang sebagai peran pembantu. Jenis karakter bisa berasal dari manusia, hewan, benda, robot, peri, monster, dan lain sebagainya. Tidak terbatas.

LATAR terbagi menjadi dua: latar tempat dan latar waktu. Latar tempat adalah di mana kejadian itu berlangsung. Latar waktu adalah kapan kejadian itu berlangsung.

TEMA adalah pokok atau gagasan atau ide pikiran dari sebuah cerita yang sedang kita tulis. Tema sebaiknya bisa ditulis dalam satu kalimat komplet dan bukan hanya satu kata. Misal, "Persahabatan adalah salah satu hal yang paling membahagiakan di dunia". Itulah yang disebut sebagai tema.

GAYA adalah cara bagaimana pengarang menuliskan ceritanya. Apakah kalimatnya berima atau tidak, apakah menggunakan kata-kata onomatope (bunyi-bunyian seperti byur, prok, gusrak, dll).
Nah, di antara elemen-elemen di atas, elemen paling penting untuk sebuah karya fiksi adalah KARAKTER.

Tips Menulis Picture Books

Karakter dalam Picture Books

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa karakter adalah elemen penting dalam fiksi, termasuk picture books.

Karena perannya sangat penting, otomatis kita harus mampu menciptakan karakter fiksi yang menarik agar selalu teringat oleh para pembaca.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat karakter yang menarik? Berikut penjelasannya.

Karakter fiksi yang menarik adalah karakter yang memiliki tujuan dan motivasi.

Tujuan: Aku ingin ...
Motivasi: Aku ingin ... karena ....

Kedua hal itu (tujuan dan motivasi) akan membuat karakter cerita kita menjadi lebih hidup dan menarik. Sebab, karakter yang tidak memiliki tujuan dan motivasi adalah karakter yang tidak asyik untuk diikuti perjalanannya.

Dalam picture books, tujuan dan motivasi sang karakter itu harus jelas dan konkret. Harus spesifik.

Misal, sang karakter adalah ulat kecil yang INGIN makan banyak KARENA perutnya sangat lapar. Tujuannya jelas: ingin makan banyak. Motivasinya jelas: karena perutnya sangat lapar.

Namun, perlu diingat, meskipun terkesan sepele, memberikan tujuan dan motivasi yang jelas untuk sang karakter itu tidak mudah. Butuh berlatih dan diskusi berkali kali.

Tips Menulis Picture Books

Struktur Plot dalam Picture Books

Setelah kita membuat karakter, langkah selanjutnya adalah membuat struktur alur cerita atau struktur plot.

Struktur plot picture books bisa dibilang serupa dengan struktur plot dalam prosa pada umumnya, yaitu terdiri dari awal, tengah, dan akhir.

Sebelum mulai menulis, sebaiknya kita memang sudah tahu dulu cerita kita secara keseluruhan. Awalnya ceritanya seperti apa, tengah ceritanya bagaimana, dan akhir ceritanya nanti akan bagaimana dan seperti apa. Harus sudah jelas. Jika sudah selesai semuanya, proses menulis baru bisa dimulai.

Ketiga struktur plot tersebut akan kita rinci lagi menjadi beberapa bagian, yaitu SET UP, RISING ACTION, CLIMAX, FALLING ACTION, RESOLUTION.

SET UP adalah awal cerita dimana karakter dijelaskan secara lengkap. Tujuan dan motivasi si karakter harus dijelaskan di sini. Di picture book, bagian set up ini harus dimulai dari halaman pertama. Jadi, pembaca sudah bisa langsung tahu apa keinginan si karakter tersebut sejak halaman pertama.

RISING ACTION adalah serangkaian aksi yang dilakukan karakter demi menggapai tujuannya. Di fase inilah karakter terlihat terus berusaha melakukan segala daya dan upaya agar keinginannya bisa segera tercapai. Di picture book, bagian rising action ini biasanya yang membutuhkan banyak halaman.

CLIMAX adalah sebuah fase ketika masalah sang karakter telah terselesaikan. Ini adalah bagian yang bisa dibilang paling menarik. Apakah karakter berhasil meraih keinginannya? Atau malah gagal?

FALLING ACTION adalah sebuah fase setelah klimaks terjadi, masalah telah terlewati, kemudian sedang menuju resolusi.

RESOLUTION adalah akhir dari cerita. Di fase ini pembaca bisa mempelajari apa yang terjadi pada karakter setelah menyelesaikan masalahnya.

Tips Menulis Picture Books

Langkah-Langkah Membuat Picture Books


Kali ini kita akan membahas langkah-langkah apa saja yang harus kita tempuh ketika ingin menulis picture books. Berikut adalah langkah-langkahnya:

Permulaan ide: konsep/tema/topik

Temukan ide ceritamu. Ide cerita tentu saja bisa datang dari mana saja, toh? Tugas kita hanya memungutnya dengan cuma-cuma. Selain itu, buat konsep ceritamu. Temanya apa? Topik ceritanya apa?

Menciptakan karakter yang memicu aksi dan membangkitkan emosi

Tidak ada karakter maka tidak akan ada cerita. Karakter adalah elemen yang akan membuat ceritamu hidup dan bernyawa. Apa yang membuat karakter itu menjadi elemen penting untuk pengembangan ceritamu?

Membuat struktur cerita: awal-tengah-akhir

Rencanakan dengan matang untuk memasukkan elemen-elemen ceritamu ke dalam struktur plot picture books kamu. Seperti apa awal-tengah-akhir ceritamu. Seperti yang sudah pernah saya bahas di artikel pertama, pikirkanlah awal dan akhir ceritamu, setelah itu bagian tengah ceritamu akan lebih mudah untuk ditemukan.

Menulis teks cerita

Saatnya menulis! Pilihlah gaya dan bahasa yang tepat untuk usia pembaca ceritamu. Tulislah dengan bahasa yang jernih dan jelas.

Merevisi cerita

Revisi, revisi, revisi! Tidak ada tulisan yang langsung jadi. True writing is rewriting. Menulis ulang adalah penulisan yang sesungguhnya. Baca kembali dengan saksama keseluruhan ceritamu dan jangan pernah ragu untuk merevisinya!

Draf final

Ini adalah akhir dari proses penulisanmu. Segalanya sudah beres di tahap ini. Sekarang adalah saatnya mengirim tulisanmu ke penerbit!

Seperti itulah langkah-langkah penulisan picture books yang harus kita lalui.
Di atas kami mengatakan bahwa merevisi sebuah tulisan adalah hal yang sangat diwajibkan. Sekarang kami akan menyajikan pertanyaan-pertanyaan apa saja yang dibutuhkan ketika ingin merevisi cerita.

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan seputar merevisi cerita.

1. Apakah karakter cerita kita sudah cukup bersahabat dengan anak?
2. Apakah plot yang kita susun sudah cukup menarik bagi para pembaca anak?
3. Apakah cerita kita sudah cukup jernih alurnya dari awal, tengah, dan akhir?
4. Apakah bahasa yang kita tulis sudah sesuai untuk para pembaca pemula?
5. Akankah anak-anak akan mendapatkan kesenangan saat membaca cerita kita?

Demikianlah. Sekarang, saatnya menulis picture books-mu sendiri![fiksiplus.com]

Saturday, May 6, 2017

Tips Menulis Novel: 8 Langkah Mudah untuk Pemula


Menulis novel adalah ambisi sebagian besar penulis fiksi. Seolah-olah jika seorang penulis fiksi berhasil menulis novel, dia sudah resmi menjadi penulis. Ya, menulis novel telah dianggap sebagai sebuah keberhasilan bagi setiap penulis.

Namun, sebagian besar orang tahu bahwa menulis novel itu tidak gampang. Banyak penulis yang merasa kesulitan setiap kali mencoba menulis novel. Sebab, jika diibaratkan sebagai olahraga lari, menulis novel adalah jenis lari maraton. Butuh proses panjang dan melelahkan.

Itu sebabnya, untuk mengatasi kesulitan itu akhirnya banyak penulis yang mencari tips-tips menulis novel.

Berikut Fiksiplus hadirkan tips menulis novel: 8 langkah mudah untuk pemula.

Selamat menyimak!

Tips menulis novel #1: tulislah Novel yang sangat ingin kamu baca.

Toni Morrison pernah bilang begini, "Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku itu belum ditulis, berarti kamulah yang harus menuliskannya."

Ya, tulislah novel yang paling ingin kamu baca. Tulislah sebuah cerita yang benar-benar membuat kamu semangat untuk menuliskannya. Jangan dulu berpikir apakah orang lain akan menyukainya atau tidak. Sebab hal itu akan mempersulit diri kamu sendiri.

Tips menulis novel #2: mulailah dengan karakter

Setelah kamu tahu cerita seperti apa yang akan kamu tulis untuk novelmu, langkah selanjutnya adalah ciptakan karakter fiksimu. Ciptakan karakter yang benar-benar hidup, karakter yang akan membuatmu berempati kepadanya. Berikan dia napas, berikan dia suara, berikan dia tubuh, berikan dia ruh.

Tips menulis novel #3: berikan tujuan untuk karaktermu

Karakter fiksi yang baik adalah karakter yang memiliki keinginan dan tujuan. Entah keinginan untuk membalas dendam, menyelamatkan keluarga dari bencana alam, mendapatkan cinta dari pasangan, mencuri benda berharga di rumah seseorang, dan lain sebagainya.

Tips menulis novel #4: berikan masalah untuk karaktermu

Setelah tahu karaktermu ingin apa, jangan beri dia kemudahan ketika dia ingin mencapainya. Berikan dia masalah. Kalau perlu, masalah yang cukup berat. Berikan dia tantangan. Berikan dia pelajaran bahwa hidup itu tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras.

Tips menulis novel #5: susun plot ceritamu

Setelah kamu tahu tujuan dan masalah-masalah apa saja yang akan dihadapi oleh karaktermu, susunlah plot yang akan membuat alur ceritamu enak dibaca. Buatlah plot yang standar dulu, seperti awal, tengah, akhir. Bagian awal cerita adalah untuk memperkenalkan tujuan dan masalah yang akan dihadapi oleh sang karakter. Bagian tengah cerita adalah tentang bagaimana sang karakter mencoba mengatasi masalah-masalah tersebut. Bagian akhir cerita adalah tentang bagaimana sang karakter akhirnya berhasil melewati masalah-masalahnya.

Tips menulis novel #6: ciptakan karakter antagonis

Karakter antagonis berfungsi untuk menjadi penghalang atau penghambat bagi sang karakter utama (protagonis). Tentu saja antagonis di sini bukan berarti harus jahat. Intinya, dia hadir untuk membuat karakter utama merasa kesulitan ketika ingin mencapai tujuannya.

Tips menulis novel #7: selesaikan draf pertamamu

Kamu sudah memiliki semua hal yang kamu perlukan dalam menulis novel. Sekarang tugasmu adalah menulis draf pertamamu sampai selesai. Jangan berpikir soal editing atau revisi terlebih dahulu. Di langkah ini tugasmu hanyalah menyelesaikan tulisan, bukan mengedit atau merevisi. Intinya, tulis sampai selesai. Titik.

Tips menulis novel #8: revisi draft pertamamu

Nah, setelah draf pertamamu selesai, sekarang adalah saatnya mengedit atau merevisi. Draf pertama harus direvisi. Tidak bisa tidak. Tidak ada tulisan bagus yang ditulis sekali jadi. Kamu bisa meminta saran dari teman-temanmu, kira-kira apa saja yang harus direvisi. Revisilah sampai berdarah-darah. Revisilah dengan sepenuh jiwa. Agar hasilnya bisa maksimal.

Sekian.

Begitulah tips menulis novel yang bisa kamu coba. Mudah-mudahan bermanfaat.[Fiksiplus.com]

(Sumber ilustrasi: Freepik)

Lima Unsur dalam Fiksi yang Mesti Kita Tahu


Dunia fiksi adalah dunia kebebasan tanpa batas. Kita bisa pergi ke mana saja, melanglang buana semau kita, menghentikan waktu dan menjalankannya kembali, semua itu bisa kita lakukan kapan saja. Kita juga bisa menciptakan makhluk-makhluk aneh yang belum sempat tuhan ciptakan, membangun sebuah pulau yang tak pernah tercatat dalam sejarah, mematikan tokoh protagonis, memberi penghargaan kepada tokoh antagonis, membalik segalanya, merusak segalanya, mendekonstruksi realita sehari-hari dengan imajinasi. Ya, dengan menulis fiksi, kita bisa melakukan apa saja.

Namun, kita juga mesti tahu, bahwa sebebas apa pun kita menulis fiksi, ada beberapa panduan yang mesti kita ikuti.

Penulisan fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Kesemua unsur tersebut adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat, indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama membaca cerita kita.
Kelima unsur penting itu adalah sebagai berikut:

  • Karakter
  • Plot/Alur
  • Seting/Latar
  • Tema
  • Style/Gaya

Jika kelima unsur di atas terjalin mulus dan terpilin dengan begitu rapi, kita akan bisa membuat cerita fiksi yang—katakanlah—berhasil.

So, here we go!

KARAKTER

Kebanyakan orang merasa bahwa karakterisasi adalah unsur paling penting dalam naskah fiksi. Penggambaran karakter yang kuat bisa membuat pembaca merasa memiliki hubungan emosional dengan tokoh karakter yang kita karang itu. Karakter yang kuat di sini maksudnya bukan berarti harus berbadan six pack seperti model iklan L-Men, melainkan karakter itu memiliki keunikan, tidak stereotip, dan mampu membuat pembaca berfikir bahwa karakter tokoh karangan kita itu benar-benar ada di dunia nyata. Cerita fiksi tanpa adanya karakterisasi atau penokohan, adalah cerita yang bisa dikatakan sangat tidak menarik.

PLOT/ALUR

Plot juga merupakan unsur yang penting dalam cerita fiksi, yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Plot tidak bisa disamakan dengan jalan cerita, tapi lebih kepada hubungan sebab-akibat. Cerita seperti: “Saya bangun tidur, melamun sebentar, kemudian beranjak mendekati jendela.” Ini namanya jalan cerita, bukan plot. Jika cerita itu diubah seperti ini: “Saya bangun tidur dan merasa tenggorokan saya kering, Dengan langkah perlahan saya langsung menuju kulkas.” Inilah yang dinamakan plot. Ada hubungan sebab-akibat di dalam cerita itu. Itu hanya contoh sederhananya. Jadi di sini sudah jelas betapa pentingnya plot dalam cerita fiksi. Plot yang baik dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan cerita kita.

SETING/LATAR

Seting adalah informasi yang menggambarkan waktu dan tempat dalam sebuah cerita fiksi. Kapan cerita itu terjadi dan di mana kisah itu berlangsung. Hal ini penting sekali, sebab dengan adanya seting, pembaca bisa lebih menghayati cerita fiksi yang kita buat itu. Dengan seting (tempat dan waktu) kita juga bisa menciptakan karakter tokoh dengan baik, dan dari seting kita juga bisa menentukan konflik demi mendapatkan emosi pembaca. Seting yang baik bukanlah cuma dijadikan sebagai latar belakang sebuah cerita fiksi saja, melainkan juga merupakan satu kesatuan dari cerita. Saling berkesinambungan.

TEMA

Tema adalah inti dari apa yang sebenarnya ingin kita ceritakan. Atau, bisa juga disebut sebagai ide pokok dari rangkaian cerita fiksi yang ingin kita tuliskan. Kita akan kesulitan menulis jika kita belum memiliki tema. Dengan tema yang menarik, pembaca akan antusias dengan tulisan kita. Jadi, jika kita ingin menulis, tentukan tema sekarang juga.

STYLE / GAYA

Apabila kita ingin menulis tentang tema yang—katakanlah—sudah klise, misalnya kisah tentang pertaubatan seorang pendosa, kita tetap bisa membuat cerita itu menjadi menarik.

"Lho, kok bisa?"
"Ya bisa, dong!"
"Bagaimana caranya?"
"Gampang!"
"Gampang bagaimana? Kasih tahu, dong!”
"Sabar, dong!"
"Aduuuh... bikin penasaran aja, deh!"
"Hehehe... gampang. Jawabannya adalah dengan gaya tulisan kamu!"

Ya, dalam menulis cerita fiksi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat cerita fiksi kita menjadi menarik, salah satunya adalah: gaya menulis. Mungkin kita bisa menulis cerita dengan menggunakan gaya punggung... eh, ini mah renang! Maaf, maksud saya, kita bisa menulis cerita dengan berbagai macam gaya. Komponen-komponen dalam gaya bisa berupa sudut pandang yang unik, narasi yang aduhai, rima yang memesona, ending yang mengejutkan, dan lain sebagainya. Tapi, kita mesti ingat, jangan terlalu sering bermain-main dengan gaya, sebab takutnya kita malah dianggap sebagai badut atraksi kata-kata. Gaya hanyalah salah satu hal yang dapat membantu menjadikan cerita fiksi kita menjadi semakin memukau.

KESIMPULAN

Apa sih pentingnya kita memahami unsur-unsur fiksi tersebut? Bukankah lebih baik kita duduk di depan komputer dan mulai menulis, lantas biarkan energi kreativitas kita yang akan melakukan hal tersebut?

Hmm... Sebenarnya dengan kita paham dan akrab dengan unsur-unsur fiksi tersebut, itu akan menguntungkan kita sebagai seorang penulis. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Mengetahui semua unsur-unsur ini akan memudahkan kita untuk berbicara dengan cerdas mengenai menulis fiksi.
  • Kita akan dapat mengidentifikasi masalah dengan lebih mudah.
  • Memahami unsur-unsur ini akan memberikan kita perspektif baru sebagai pembaca fiksi.
  • Jika unsur-unsur cerita fiksi adalah bahan bangunan, maka kita harus tahu apa yang harus kita kerjakan selanjutnya.

Ya, kamu mungkin bisa saja cuma duduk dan langsung menulis dengan kreativitas yang—katakanlah—masih mentah, dan bisa jadi hasil tulisan itu akan menjadi tulisan yang baik. Namun, semakin kamu memahami unsur-unsur di atas tadi, semakin lengkaplah kamu untuk menjadi seorang penulis fiksi yang baik. Semoga bermanfaat![]

Saturday, November 19, 2016

Tips Menulis Resensi: Panduan Lengkap dari Teguh Afandi

Tips Menulis Resens

Oleh: Teguh Afandi

Dua tahun lalu, tepatnya Februari 2014, resensi saya pertama kali muncul di koran. Kalau itu bayi, pastilah sekarang sudah mengoceh ayah-ibu sambil minta dibelikan susu. Itu adalah ulasan atas buku Little Stories, buku kumpulan cerpen hasil dari sebuah pelatihan yang diadakan oleh Maggie Tiojakin.

Mengapa saya menulis itu? Pertanyaan ini menarik untuk dijawab. Saya menulis resensi itu karena saya menyukai karya-karya Maggie Tiojakin. Kemudian saya tulislah apa yang saya rasakan usai membaca buku tersebut. Setelah itu, resensi saya bisa dikatakan kerap mejeng di beberapa koran.

Pernah suatu kali saya menulis ulasan atas buku kumpulan cerpen Cinta Tak Pernah Tua, karangan Benny Arnas. Ulasan itu dimuat di Jawa Pos. Benny Arnas mengirimkan pesan lewat WA bahwa ulasan saya atas bukunya dibaca oleh Budi Darma, dan betapa gembiranya saya bahwa ulasan itu disukai oleh sastrawan pujaan saya. Resensi Teguh Afandi di Jawa Pos sangat bagus, komentar Budi Darma. Kan jarang-jarang dapat endorsement dari sastrawan besar untuk sebuah resensi. Bahagia.

Pernah pula Arafat Nur berbalas-balas email dengen saya setelah dia mengetahui saya menulis ulasan untuk dua bukunya Burung Terbang di Kelam Malam dan Tempat Paling Sunyi di Jawa Pos.

Ulasan paling ajaib ialah saat menulis resensi atas buku kumpulan cerpen Candra Malik, Mawar Hitam. Saya baru mendapatkan buku itu hari Selasa, Rabu malam kemudian saya tulis, dan hari Minggunya ulasan saya sudah ada di Jawa Pos. Benar-benar sebuah ulasan superkilat di saat bukunya yang mungkin saja belum terdistribusi secara merata ke seluruh toko buku.

Menulis resensi ternyata sudah menjadi naluri alamiah yang menggerakkan saya tiap kali usai merampungkan bacaan. Selalu ada yang bergerak di kepala, entah frasa yang menarik untuk dijadikan judul, bagian yang seksi untuk dibahas, atau bahkan kutipan-kutipan yang bila dituangkan akan memperkuat tulisan.

Kerap saya diminta, “Kasih tips dong nulis resensi!”’. Ini sebenarnya permintaan yang sangat sulit, sebagaimana sulitnya mendapatkan jawaban mengapa sayur asem di warung X tidak sesedap sayur asem di warung Q. Karena, pada dasarnya saya menulis resensi dikarenakan menyukai buku dan kerap ngomel saat usai membaca buku. Cerewetnya saya usai membaca buku inilah yang mempermudah menuangkan resensi.

Selain cerewet, saya adalah pengagum Bandung Mawardi dan Muhidin M Dahlan. Keduanya kerap menulis esai dan resensi buku di media-media bergengsi, bukan sekadar radar-radaran, atau koran tidak jelas di pelosok daerah sana. Dari Bandung Mawardi atau Kabut yang saya juluki sebagai perpustakaan hidup, tiap menulis esai atau ulasan buku, rujukan bukunya adalah bukan hal-hal jamak. Dia bisa membawa kita kepada jejeran rak buku berdebu terbitan 60 tahun lalu. Muhidin M Dahlan atau Gus Muh pun tak jauh berbeda. Dia adalah kerani warung arsip dan bacaannya adalah level dewa. Kalau hendak mencontek bagaimana mereka menulis, telisiklah tulisan-tulisan mereka. Pelajari dengan cermat. Membaca 10-15 tulisan mereka yang tersebar di media massa, sudah cukup untuk modal menulis resensi yang super kece.

Pada dasarnya, menulis resensi bisa dipelajari sebagaimana menulis cerpen. Masih butuh bukti? Saya adalah penulis otodidak, jadi tak butuh teori muluk-muluk. Kalau dalam falsafah Jawa: niteni-niroake, amati dan tiru kemudian modifikasi cara resensi baik itu di tulis.

Namun, bolehlah saya berbagi beberapa hal yang perlu dilakukan bagi yang hendak menulis resensi di koran.

Tips Menulis Resens

Pekerjaan Pertama ialah Menyelesaikan Buku. Buku Bukan Rangkaian Gerbong KRL, Dimana Gerbong Pertama dan Terakhir Saja yang Disebut oleh Petugas Kereta

Penulis resensi wajib hukumnya menyelesaikan buku. Meski bukan mustahil menulis resensi buku dengan membaca daftar isi, misal buku praktis dan tips. Bisa dengan mudah diselesaikan dengan teknik membaca cepat. Tetapi untuk buku-buku serius, atau pun novel, saya sarankan selesaikan dahulu. Apalagi fiksi, kadang kekuatan novel ada di bagian-bagian akhir.

Dengan membaca utuh, kita akan tahu bagian mana yang menarik untuk dikutip, adakah selipan-selipan pemikiran penulis yang sangat kuat untuk kembali dituangkan. Jadi selesaikan bukumu, baru tulis resensimu. Jangan seperti komentator makanan, yang baru diicip satu sendok sudah berkomentar satu sesi taping berdurasi satu jam.

Tips Menulis Resens

Lupakan Teori di Sekolah, bahwa Resensi Itu Terdiri dari Ringkasan, Kelebihan/Kekurangan, Saran, dan Amanat. Itu Sesat!

Saya selalu berang kalau ada yang mengirim pesan dan bertanya apakah perlu disebutkan hal-hal yang diajarkan di sekolah itu. Tentu dengan guyonan, karena yang membaca bukan guru Bahasa Indonesia di SMA-mu, maka lupakan ajaran itu. Bukan saya tidak menghormati guru-guru Bahasa Indonesia yang kerap mempergunakan formula tersebut dalam mengajarkan materi menulis resensi. Karena, saya pun mengalami. Saya mendapatkan nilai bagus di tugas menulis resensi, saya mempergunakan aturan tersebut untuk resensi buku Lingkaran Kabut milik Korie Layun Rampan di kelas XI SMA. Tetapi, saya tidak akan mengulangi lagi untuk resensi-resensi di koran.

Resensi-resensi di koran sifatnya sangat bebas. Jadi, buatlah yang komprehensif, berisi. Kalau diibaratkan makanan, buat resensi se-gayeng sate klathak seporsi masih ditambah gulai kepala kambing. Nendang dan nyam-nyam sekali waktu dibaca, baik oleh penulis, pembaca resensimu di koran, atau bahkan penerbit.

Tips Menulis Resens

Membuat Komprehensif, Bukan Menulis Keseluruhan Isi. Apalagi Spoiler yang Kurang Sopan

Komprehensif memang bukan berarti kamu membuat kritik yang harus menderet seluruh teori sastra atau kritik perbandingan. Boleh, itu sah. Tetapi karena resensi kebanyakan ada di media massa umum, jarang di jurnal ilmiah bahasa, pergunakanlah sesuatu pisau pembedah yang bisa dinikmati oleh pembaca umum.

Misal, kalau kita diminta menceritakan ulang hasil pengamatan atas seekor sapi yang bunting hampir melahirkan. Mungkin ulasan kita akan monoton dan biasa kalau kita hanya menyebut perut sapi itu membesar dan hampir meletus. Itu basi. Tetapi kalau kita menulis hasil pengamatan misal dengan menyebut bahwa sapi itu benar-benar keberatan oleh isi perut. Bahkan yang kalau di hari-hari biasa begitu gesit mengusir lalat-lalat yang mengusik dengan ekornya, sapi itu tak lagi kuasa. Jangan-jangan sapi itu beranak lima kembar.

Resensi pun demikian. Kalau hanya menuliskan ulang keseluruhan cerita, apa bedanya dengan sinopsis di belakang buku? Harus ada sudut pandang yang baru dan segar.

Tips Menulis Resens

Resensi Harus Mengundang. Seksi, Menggoda, dan Menggiurkan

Ini adalah hal yang sifatnya harus ada. Tidak hanya dalam resensi. Opini, cerpen, novel, esai, bahkan sekadar status di media sosial pun demikian. Kita harus membuat resensi kita adalah resensi terseksi yang masuk di meja redaksi, hingga redaktur tidak ada kata lain selain ‘aku sih yes!’. Apa yang bisa dilakukan untuk membuat resensi kita seksi?

(1) buatlah judul seseksi mungkin. Kalau perlu provokatif, tapi mengundang. Saya pernah membuat judul resensi Negeri Nelangsa itu Bernama Senja, Genduk Sundari Srintil Tohari, Bila Pengarang Sudah Mati, atau Cinta, Perang, dan Novel Sama Rumitnya. Kalau judul cuma pelajaran dari..., kisah inspiratif..., bukannya tidak dimuat, tetapi kurang seksi.

(2) Pilihan buku. Ini menjadi urgensi penting. Coba cermati, buku-buku apa saja yang kerap masuk dan boleh diresensi di koran-koran besar. Kompas, Jawa Pos, dan Tempo tiga media besar yang menyediakan kolom resensi jelas tidak sembarangan mengambil judul buku. Kalau sudah ketemu formula buku-buku apa saja yang seksi, kamu akan menjadi pembaca pemilih. Radar Neptunus-mu akan terasah dan menjadi pemilih. Selain itu usahakan buku yang paling fresh from the oven, kemungkinannya akan besar dimuat. Maka, sering-seringlah main ke website penerbit, tanya-tanya buku yang akan terbit, jadi pembeli paling wahid dan tulis resensi as soon as possible.

(3) Sudut pandang. Ini sangat penting dan menentukan keseksian tulisan. Resensi bukan sinopsis atau ringkasan, tetapi mengungkapkan gagasan baru usai membaca buku. Jadi, ambillah sudut pandang paling menarik yang belum dipikirkan.

Tips Menulis Resens

Fungsi Resensi

Saya belum menemukan fungsi dari resensi. Namun, setidaknya saya bisa merumuskan tiga fungsi pokok.

Pertama adalah mengenalkan buku itu. Resensi harus menjembatani antara keinginan penulis, penerbit untuk mengenalkan buku itu kepada pembaca atau calon pembaca. Maka, resensi bukan spoiler yang mendedah semua isi buku (di sini teori di SMA bahwa resensi harus ada ringkasan, terbantahkan). Resensi harus memancing calon pembaca untuk beli dan baca itu buku. Yang sudah baca, tergugah untuk membaca kembali.

Kedua adalah fungsi kritik. Sangat mungkin dalam resensi kita beri masukan. Pernah suatu kali saya menulis resensi yang sedikit ‘pedih’ untuk sebuah buku, dan penulisnya merasa itu resensi komprehensif dan senang dengan masukan saya.

Ketiga, ini fungsi paling menggembirakan bagi penulis resensi. Para penulis resensi pasti tahu.

Jangan Jadi Pengemis. Karena, Kemensos Sudah Menerbitkan Peraturan Larangan Terhadap Gepeng. Dan Kamu Pasti Enggak Mau kan Masuk Panti Sosial?

Saya memang menyenangi fungsi nomor tiga resensi di atas. Penerbit kerap memberi balasan buku baru kepada penulis resensi. Tetapi janganlah jadi pengemis untuk ini. Betul, resensi sama sekali tidak membantu peningkatan omset penjualan. Babarblas. Apa pernah penjualan buku yang ada di rak best-seller di toko buku lantaran resensimu? Tidak sama sekali. Maka, janganlah jadi pengemis kepada penerbit. Kalau diberi balasan buku, diterima. Kalau tidak, jadilah pembeli buku sebaik kamu menulis ulasannya.

Jujur, saya paling gatel, pengen nyemprot kepada mereka-mereka yang banci balasan buntelan dari penerbit. Dan saranku, cobalah menjadi peresensi bermartabat. Selain tidak mengemis, hadirkan resensimu di media-media kenamaan. Atau minimal yang pembacanya bukan hanya kamu seorang diri. Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Majalah Tempo, Majalah Gatra, Majalah Basis, adalah beberapa media massa yang mentereng. Saya sebut beberapa karena memang masih banyak media lainnya.

Namun, please, janganlah menulis resensimu di koran-koran lokal yang pembacanya tak seberapa. Kalau penerbit kamu sodori resensi demikian, bukan hanya mengelus dada tetapi juga malu. So, please! Targetkan media-media yang bergengsi, biar nama kita pun menjadi rujukan. Atau sangat mungkin komentar kita di resensi bisa tayang kembali di cetakan ulang buku tersebut, kalau diulas di media bergengsi kan juga mantap.

Tresno Jalaran Soko Kulino. Iso Mergo Mben Dino

Penulis resensi yang baik tak perlu tanya apa arti kalimat itu. Itu gampang saja. Tips terbaik dalam hal tulis-menulis adalah tulis saja, tulis saja, dan tulis saja. Akan tahu sendiri bagaimananya, kalau sudah pernah megang dan merasakannya. Tidak butuh 1000 jam memang, tetapi sering saja sudah cukup. Blog bisa dijadikan latihan sambil membaca resensi-resensi keren Bandung Mawardi atau Muhidin M Dahlan. Atau manfaatkanlah Goodreads sebagai ajang meningkatkan kecerewetanmu dalam membaca buku.

Akhirukalam, meminjam tagline dari Klub Baca (@klubbaca), buku hadir untuk dirayakan. Buku hadir untuk dibaca. Menulis resensi tidak salah kalau disebut sebagai aktivitas lanjutan dari membaca. Lantas pertanyaannya, sudah membaca buku apa hari ini? Jangan mau seperti kutu buku, yang dekat dengan buku tapi tak sekali pun membaca.[fiksiplus.com]

_______________________________

Teguh Afandi, lahir di Blora, 26 Juli 1990. Resensinya dimuat di beberapa media massa. Saat ini dia adalah seorang editor buku fiksi di penerbit Nourabooks.

Info lebih lanjut: Website | Facebook | Twitter

Tuesday, November 1, 2016

Kalau Kamu Bingung Memulai Sebuah Cerpen, 5 Langkah Ini Akan Membantumu

Tips Memulai Menulis Cerpen

Banyak yang bilang bahwa untuk mulai menulis cerpen itu tidak mudah.

Sebagian besar cerpenis yang ingin mulai menulis cerpen kebanyakan hanya menatap layar kosong dengan tatapan seperti orang linglung.

Tema cerpen sudah ada, karakter dan konfliknya juga sudah ada, bahkan ending-nya pun sudah ditemukan.

Namun, untuk memulainya kok ya sulit banget.

Saking sulitnya memulai sebuah cerpen, di saat lokakarya menulis kreatif, pasti ada saja seseorang yang mengacungkan tangannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana caranya memulai sebuah cerpen?”

Nah, di sini Fiksiplus akan menampilkan 5 langkah sederhana untuk memulai sebuah cerpen.

Berikut adalah langkah-langkahnya.

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan dialog

Bisa dibilang ini adalah cara yang lumayan mudah.

Cobalah untuk memulai cerpen kamu dengan sebuah dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh kamu.

Contohnya seperti cerpen Bunga dari Peking karya Zelfeni Wimra ini:

“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek.


Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan Deskripsi Tokoh

Langkah ini juga bisa kamu coba. Pikirkanlah sejenak, kira-kira karakter tokoh dalam ceritamu seperti apa.

Raut wajahnya seperti apa? Penampilannya rapih atau berantakan? Apakah dia memiliki aroma yang khas?

Contohnya seperti cerpen Kitab Salah Paham karya Puthut EA ini:

Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna.

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi

Jika kamu masih bingung dengan dialog dan deskripsi tokoh, langkah ini siapa tahu cocok untuk kamu.

Ambil koran yang berada di dekatmu. Pilih berita yang menurutmu menarik dan pas dengan tema cerpen kamu. Tulis ulang berita itu untuk menjadi awal cerpenmu.

Contohnya seperti cerpen Sirkus karya Agus Noor ini:
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong.... Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)
Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami .... 

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan Adegan

Banyak pembaca yang menyukai sebuah cerita yang dimulai dengan adegan. Kamu bisa mencobanya.

Contohnya seperti cerpen Kematian Seorang Istri  karya Puthut EA ini:
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang ada adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian.
Atau, seperti cerpen Rembulan dalam Cappucino karya Seno Gumira Ajidarma ini:
Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya.

Tips Memulai Menulis Cerpen

Tips menulis cerpen: Mulailah dengan deskripsi latar tempat

Mungkin langkah terakhir ini agak riskan bagi penulis pemula. Sebab, jika tidak dieksekusi dengan baik, bisa jadi cerpenmu akan membosankan.

Namun, jika ditulis dengan baik, bisa jadi cerpenmu malah akan membuat para pembacamu tertarik.

Contohnya seperti cerpen Cinta Tak Ada Mati  karya Eka Kurniawan ini:
Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian.

Atau, seperti cerpen Sebatang Pohon di Tengah Padang karya Seno Gumira Ajidarma ini:
Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan.


Selesai.

Sebenarnya masih banyak langkah-langkah yang lain untuk memulai sebuah cerpen.

Namun, kami rasa lima langkah di atas sudah cukup untuk kamu praktikkan.

Kamu boleh mencobanya satu persatu. Pilihlah kira-kira yang sesuai dengan tema cerpenmu. Jika langkah yang satu kurang cocok, kamu boleh menggunakan langkah yang berikutnya.

Intinya, jangan pernah takut mencoba.

Semoga kita semua bisa terhindar dari pembukaan cerpen yang klise seperti “Matahari pagi bersinar dengan indah” atau “Jam weker berdering dan dia terbangun dari tidurnya”.

Sekian.

(Sumber ilustrasi: Freepik)