Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts

Saturday, May 6, 2017

Tips Menulis Novel: 8 Langkah Mudah untuk Pemula


Menulis novel adalah ambisi sebagian besar penulis fiksi. Seolah-olah jika seorang penulis fiksi berhasil menulis novel, dia sudah resmi menjadi penulis. Ya, menulis novel telah dianggap sebagai sebuah keberhasilan bagi setiap penulis.

Namun, sebagian besar orang tahu bahwa menulis novel itu tidak gampang. Banyak penulis yang merasa kesulitan setiap kali mencoba menulis novel. Sebab, jika diibaratkan sebagai olahraga lari, menulis novel adalah jenis lari maraton. Butuh proses panjang dan melelahkan.

Itu sebabnya, untuk mengatasi kesulitan itu akhirnya banyak penulis yang mencari tips-tips menulis novel.

Berikut Fiksiplus hadirkan tips menulis novel: 8 langkah mudah untuk pemula.

Selamat menyimak!

Tips menulis novel #1: tulislah Novel yang sangat ingin kamu baca.

Toni Morrison pernah bilang begini, "Jika ada buku yang benar-benar ingin kamu baca, tapi buku itu belum ditulis, berarti kamulah yang harus menuliskannya."

Ya, tulislah novel yang paling ingin kamu baca. Tulislah sebuah cerita yang benar-benar membuat kamu semangat untuk menuliskannya. Jangan dulu berpikir apakah orang lain akan menyukainya atau tidak. Sebab hal itu akan mempersulit diri kamu sendiri.

Tips menulis novel #2: mulailah dengan karakter

Setelah kamu tahu cerita seperti apa yang akan kamu tulis untuk novelmu, langkah selanjutnya adalah ciptakan karakter fiksimu. Ciptakan karakter yang benar-benar hidup, karakter yang akan membuatmu berempati kepadanya. Berikan dia napas, berikan dia suara, berikan dia tubuh, berikan dia ruh.

Tips menulis novel #3: berikan tujuan untuk karaktermu

Karakter fiksi yang baik adalah karakter yang memiliki keinginan dan tujuan. Entah keinginan untuk membalas dendam, menyelamatkan keluarga dari bencana alam, mendapatkan cinta dari pasangan, mencuri benda berharga di rumah seseorang, dan lain sebagainya.

Tips menulis novel #4: berikan masalah untuk karaktermu

Setelah tahu karaktermu ingin apa, jangan beri dia kemudahan ketika dia ingin mencapainya. Berikan dia masalah. Kalau perlu, masalah yang cukup berat. Berikan dia tantangan. Berikan dia pelajaran bahwa hidup itu tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan kerja keras.

Tips menulis novel #5: susun plot ceritamu

Setelah kamu tahu tujuan dan masalah-masalah apa saja yang akan dihadapi oleh karaktermu, susunlah plot yang akan membuat alur ceritamu enak dibaca. Buatlah plot yang standar dulu, seperti awal, tengah, akhir. Bagian awal cerita adalah untuk memperkenalkan tujuan dan masalah yang akan dihadapi oleh sang karakter. Bagian tengah cerita adalah tentang bagaimana sang karakter mencoba mengatasi masalah-masalah tersebut. Bagian akhir cerita adalah tentang bagaimana sang karakter akhirnya berhasil melewati masalah-masalahnya.

Tips menulis novel #6: ciptakan karakter antagonis

Karakter antagonis berfungsi untuk menjadi penghalang atau penghambat bagi sang karakter utama (protagonis). Tentu saja antagonis di sini bukan berarti harus jahat. Intinya, dia hadir untuk membuat karakter utama merasa kesulitan ketika ingin mencapai tujuannya.

Tips menulis novel #7: selesaikan draf pertamamu

Kamu sudah memiliki semua hal yang kamu perlukan dalam menulis novel. Sekarang tugasmu adalah menulis draf pertamamu sampai selesai. Jangan berpikir soal editing atau revisi terlebih dahulu. Di langkah ini tugasmu hanyalah menyelesaikan tulisan, bukan mengedit atau merevisi. Intinya, tulis sampai selesai. Titik.

Tips menulis novel #8: revisi draft pertamamu

Nah, setelah draf pertamamu selesai, sekarang adalah saatnya mengedit atau merevisi. Draf pertama harus direvisi. Tidak bisa tidak. Tidak ada tulisan bagus yang ditulis sekali jadi. Kamu bisa meminta saran dari teman-temanmu, kira-kira apa saja yang harus direvisi. Revisilah sampai berdarah-darah. Revisilah dengan sepenuh jiwa. Agar hasilnya bisa maksimal.

Sekian.

Begitulah tips menulis novel yang bisa kamu coba. Mudah-mudahan bermanfaat.[Fiksiplus.com]

(Sumber ilustrasi: Freepik)

Lima Unsur dalam Fiksi yang Mesti Kita Tahu


Dunia fiksi adalah dunia kebebasan tanpa batas. Kita bisa pergi ke mana saja, melanglang buana semau kita, menghentikan waktu dan menjalankannya kembali, semua itu bisa kita lakukan kapan saja. Kita juga bisa menciptakan makhluk-makhluk aneh yang belum sempat tuhan ciptakan, membangun sebuah pulau yang tak pernah tercatat dalam sejarah, mematikan tokoh protagonis, memberi penghargaan kepada tokoh antagonis, membalik segalanya, merusak segalanya, mendekonstruksi realita sehari-hari dengan imajinasi. Ya, dengan menulis fiksi, kita bisa melakukan apa saja.

Namun, kita juga mesti tahu, bahwa sebebas apa pun kita menulis fiksi, ada beberapa panduan yang mesti kita ikuti.

Penulisan fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Kesemua unsur tersebut adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat, indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama membaca cerita kita.
Kelima unsur penting itu adalah sebagai berikut:

  • Karakter
  • Plot/Alur
  • Seting/Latar
  • Tema
  • Style/Gaya

Jika kelima unsur di atas terjalin mulus dan terpilin dengan begitu rapi, kita akan bisa membuat cerita fiksi yang—katakanlah—berhasil.

So, here we go!

KARAKTER

Kebanyakan orang merasa bahwa karakterisasi adalah unsur paling penting dalam naskah fiksi. Penggambaran karakter yang kuat bisa membuat pembaca merasa memiliki hubungan emosional dengan tokoh karakter yang kita karang itu. Karakter yang kuat di sini maksudnya bukan berarti harus berbadan six pack seperti model iklan L-Men, melainkan karakter itu memiliki keunikan, tidak stereotip, dan mampu membuat pembaca berfikir bahwa karakter tokoh karangan kita itu benar-benar ada di dunia nyata. Cerita fiksi tanpa adanya karakterisasi atau penokohan, adalah cerita yang bisa dikatakan sangat tidak menarik.

PLOT/ALUR

Plot juga merupakan unsur yang penting dalam cerita fiksi, yaitu rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Plot tidak bisa disamakan dengan jalan cerita, tapi lebih kepada hubungan sebab-akibat. Cerita seperti: “Saya bangun tidur, melamun sebentar, kemudian beranjak mendekati jendela.” Ini namanya jalan cerita, bukan plot. Jika cerita itu diubah seperti ini: “Saya bangun tidur dan merasa tenggorokan saya kering, Dengan langkah perlahan saya langsung menuju kulkas.” Inilah yang dinamakan plot. Ada hubungan sebab-akibat di dalam cerita itu. Itu hanya contoh sederhananya. Jadi di sini sudah jelas betapa pentingnya plot dalam cerita fiksi. Plot yang baik dapat menggugah rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan cerita kita.

SETING/LATAR

Seting adalah informasi yang menggambarkan waktu dan tempat dalam sebuah cerita fiksi. Kapan cerita itu terjadi dan di mana kisah itu berlangsung. Hal ini penting sekali, sebab dengan adanya seting, pembaca bisa lebih menghayati cerita fiksi yang kita buat itu. Dengan seting (tempat dan waktu) kita juga bisa menciptakan karakter tokoh dengan baik, dan dari seting kita juga bisa menentukan konflik demi mendapatkan emosi pembaca. Seting yang baik bukanlah cuma dijadikan sebagai latar belakang sebuah cerita fiksi saja, melainkan juga merupakan satu kesatuan dari cerita. Saling berkesinambungan.

TEMA

Tema adalah inti dari apa yang sebenarnya ingin kita ceritakan. Atau, bisa juga disebut sebagai ide pokok dari rangkaian cerita fiksi yang ingin kita tuliskan. Kita akan kesulitan menulis jika kita belum memiliki tema. Dengan tema yang menarik, pembaca akan antusias dengan tulisan kita. Jadi, jika kita ingin menulis, tentukan tema sekarang juga.

STYLE / GAYA

Apabila kita ingin menulis tentang tema yang—katakanlah—sudah klise, misalnya kisah tentang pertaubatan seorang pendosa, kita tetap bisa membuat cerita itu menjadi menarik.

"Lho, kok bisa?"
"Ya bisa, dong!"
"Bagaimana caranya?"
"Gampang!"
"Gampang bagaimana? Kasih tahu, dong!”
"Sabar, dong!"
"Aduuuh... bikin penasaran aja, deh!"
"Hehehe... gampang. Jawabannya adalah dengan gaya tulisan kamu!"

Ya, dalam menulis cerita fiksi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat cerita fiksi kita menjadi menarik, salah satunya adalah: gaya menulis. Mungkin kita bisa menulis cerita dengan menggunakan gaya punggung... eh, ini mah renang! Maaf, maksud saya, kita bisa menulis cerita dengan berbagai macam gaya. Komponen-komponen dalam gaya bisa berupa sudut pandang yang unik, narasi yang aduhai, rima yang memesona, ending yang mengejutkan, dan lain sebagainya. Tapi, kita mesti ingat, jangan terlalu sering bermain-main dengan gaya, sebab takutnya kita malah dianggap sebagai badut atraksi kata-kata. Gaya hanyalah salah satu hal yang dapat membantu menjadikan cerita fiksi kita menjadi semakin memukau.

KESIMPULAN

Apa sih pentingnya kita memahami unsur-unsur fiksi tersebut? Bukankah lebih baik kita duduk di depan komputer dan mulai menulis, lantas biarkan energi kreativitas kita yang akan melakukan hal tersebut?

Hmm... Sebenarnya dengan kita paham dan akrab dengan unsur-unsur fiksi tersebut, itu akan menguntungkan kita sebagai seorang penulis. Di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Mengetahui semua unsur-unsur ini akan memudahkan kita untuk berbicara dengan cerdas mengenai menulis fiksi.
  • Kita akan dapat mengidentifikasi masalah dengan lebih mudah.
  • Memahami unsur-unsur ini akan memberikan kita perspektif baru sebagai pembaca fiksi.
  • Jika unsur-unsur cerita fiksi adalah bahan bangunan, maka kita harus tahu apa yang harus kita kerjakan selanjutnya.

Ya, kamu mungkin bisa saja cuma duduk dan langsung menulis dengan kreativitas yang—katakanlah—masih mentah, dan bisa jadi hasil tulisan itu akan menjadi tulisan yang baik. Namun, semakin kamu memahami unsur-unsur di atas tadi, semakin lengkaplah kamu untuk menjadi seorang penulis fiksi yang baik. Semoga bermanfaat![]

Tuesday, November 1, 2016

Tulisan Macet di Tengah Jalan? Atasi dengan Cara Ini!


Kita pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block.

Namun, apa sih writer’s block itu?

Ada yang bilang bahwa writer’s block adalah kutukan. Bahkan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa writer’s block itu cuma mitos.

Namun, hampir semua orang pasti pernah mengalami hal seperti ini: duduk di depan layar komputer, jari-jari sudah gatal untuk segera menekan tuts di keyboard, dan segala macam gagasan berkelindan di dalam tempurung kepala, tapi tak ada satu kata pun yang lahir. Ide tak juga kunjung mewujud.

Dan, tentu saja, layar itu tetap saja kosong.

Writer’s block bisa dibilang misterius. Ia datang secara tiba-tiba tanpa pernah kita duga. Kadang ia datang dari awal ketika kita ingin menulis, sehingga membuat kertas atau layar komputer kita tetap saja kosong dari awal sampai akhir.

Kadang ia datang di saat tulisan kita sudah lumayan banyak, sehingga kita sudah seperti pengendara motor yang sedang kehabisan bensin, mogok ditengah jalan tanpa bisa melakukan apa-apa.

Bahkan ia juga pernah datang di saat-saat terakhir ketika tulisan kita sedikit lagi akan selesai. Bisa dibayangkan betapa menjengkelkannya jika hal tersebut terjadi oleh kita.


Hernowo, penulis buku Mengikat Makna Update, pernah mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya writer’s block itu ada banyak.

Di antaranya adalah: pertama, miskin bahasa atau kata-kata. (Punya banyak ide, tapi tak bisa dikeluarkan karena kata-kata yang tersimpan di dalam diri tak bisa menampung ide-ide hebat tersebut).

Kedua, tak memiliki topik yang mengesankan (bermakna) untuk ditulis. Kita sudah kepengin atau kebelet menulis, komputer sudah dinyalakan, tapi yang mau kita tulis tidak menggairahkan diri kita, ya, akhirnya enggak ada yang bisa dikeluarkan dari diri kita.

Ketiga, tidak berani dan enggan mencicil menulis. Sebenarnya kalau kita mau pelan-pelan mengeluarkan bahan-mentah tulisan, enggak ada yang namanya writer’s block itu.


Bagi Eka Kurniawan, penulis novel Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, fenomena writer’s block serupa seorang pejalan yang terjebak di tengah belukar.

Belukar itu bisa merupakan rumpun yang belum terjamah, bisa pula merupakan belantara jalan raya yang tanpa petunjuk.

Untuk mengatasinya cukup sederhana, yaitu kita harus kembali lagi dari awal dan pertanyakan kembali apa tujuan kita menulis.

Kata Eka Kurniawan, “Saya harus tahu mengapa saya masuk ke belukar tersebut: mengapa saya menulis sesuatu. Saya juga harus tahu apa yang harus saya bawa untuk membabat belukar, saya harus tahu segala yang diperlukan untuk menuliskannya. Dan saya tak akan terjebak selamanya di dalam belukar, jika saya tahu kemana arah yang hendak saya tuju: kemana saya ingin membawa tulisan saya.”

Secara ringkas, mungkin tips-tips untuk menghindari writer’s block bisa Fiksiplus paparkan sebagai berikut:

Tentukan ide

Ini sangat penting. Ibarat ingin pergi ke suatu tempat, kita mesti tahu dulu tujuan kita. Kalau tidak, bisa-bisa kita bingung dan diam di tempat, atau paling buruknya kita akan tersesat. Itu sebabnya, sebelum menulis, kita mesti tahu dulu apa sih sebenarnya yang ingin kita tulis.

Tulis apa yang kamu tahu

Ya, untuk seorang penulis pemula, sepertinya rumus “tulislah apa yang kamu tahu” itu memang bisa dijadikan sebagai panduan.

Kadang kita memang selalu ingin menulis segalanya. Tentang mimpi, tentang nuklir, tentang seorang anak yang mengidap penyakit dislexia, tentang revolusi Perancis, tentang anarkis di Spanyol, tentang konspirasi sekte Mason Bebas, tentang si Google Guys Larry Page dan Sergey Brin, tentang penduduk asli Badui dalam, tentang sejarah Batavia, tentang Batik, tentang silsilah Nyi Roro Kidul, dan lain sebagainya.

Semuanya ingin kita tulis, seolah-olah hidup kita sebentar lagi akan selesai. Padahal pengetahuan kita akan itu semua tidaklah terlalu banyak, bahkan bisa dibilang amat sedikit.

Itu sebabnya, ketika kita ingin menulis sesuatu yang tidak kita tahu, writer’s block pasti akan datang menyapa kita. Waspadalah! Waspadalah!

Cari data

Jika kita tetap ngotot untuk menulis cerpen atau novel tentang—misalnya—konspirasi sekte Mason Bebas, padahal pemahaman kita akan hal itu sangatlah sedikit, apa boleh buat, kita harus cari data yang banyak.

Kita bisa searching di Google dan cari sebanyak-banyaknya situs yang membahas tentang tema yang ingin kita tulis.

Kita ketikkan saja kata kunci seperti Freemason, Zionis, Teodor Herzl, Kabala, Talmud, dan lain semacamnya.

Atau mungkin bisa juga kita baca buku-buku yang membahas tentang permasalahan tersebut. Catat segala hal yang menurut kita penting. Insya Allah, dengan banyaknya data yang kita punya, writer’s block akan mudah diatasi.

Paragraf pertama begitu menggoda

Buatlah paragraf pertama yang bagus—setidaknya bagus menurut kita.

Sebab, paragraf pertama yang bagus bisa menyemangati kita untuk membuat paragraf-paragraf yang berikutnya. Gairah kita akan menjadi semakin terpacu.

Sebaliknya, jika paragraf pertamanya sudah jelek, kita tentu jadi malas untuk membuat paragraf yang berikutnya.

Itu sebabnya, paragraf pertama adalah unsur yang sangat penting dalam memulai sebuah tulisan.

Seperti yang sudah kita tahu bersama, bahwa Gabriel Garcia Marquez butuh waktu yang sangat lama hanya untuk membuat paragraf pertama, dan setelah paragraf pertama sudah selesai, maka ia akan menulis terus tanpa bisa dihentikan.

Untuk membuat paragraf pertama yang bagus, tentu saja kita harus banyak berlatih.

Kita bisa membaca tulisan-tulisan para penulis yang—katakanlah—sudah senior. Kalau perlu, tiru saja sampai sama persis.

Setelah itu kita modifikasi dengan gaya kita. Tambal-sulam dengan kalimat-kalimat yang kita punya. Jangan khawatir, tindakan copy the master bukanlah tindakan kriminal. Bahkan penulis yang sudah terkenal pun pernah melakukan hal yang demikian. Saat ini kita sedang tidak berbicara tentang plagiat dan orisinalitas. Saat ini kita sedang belajar menulis. Itu saja.

Macet di tengah jalan?

Kalau ditengah jalan tiba-tiba tulisan kita macet, sabar dan tidak usah panik.

Barangkali memang sudah saatnya kita untuk berhenti sejenak.

Seduh kopi dulu jika kita memang pecandu kopi. Kalau perlu rebus indomie dulu, sebab siapa tahu saja kita sedang lapar. Atau shalat dulu. Biar pikiran kita menjadi segar kembali.

Namun, sejenak saja, jangan lama-lama. Takutnya nanti kita malah tercerabut dari tulisan kita. Sebab, writer’s block sering juga terjadi karena hal ini.

Ketika kita rehat terlalu lama, dan ketika kita mencoba untuk menulis kembali, tiba-tiba saja kita jadi bingung untuk melanjutkan tulisan kita itu.

Feel kita jadi berbeda. Segala yang kita rasa jadi tak sama. Kita seolah-olah harus memulai lagi dari awal. Huft.

Kalau terjadi seperti ini, kita bisa membaca tulisan kita itu dari awal, resapi setiap kalimat yang sudah kita tulis, rasakan segala rima yang sudah kita ciptakan, sampai akhirnya feel kita kembali seperti semula dan semangat kita kembali menyala.

Menemukan jalan buntu? Matikan komputermu!

Jika tulisan kita benar-benar macet dan seolah-olah kita seperti terjebak di jalan buntu dan kita tidak bisa bergerak ke mana-mana, padahal segala daya dan upaya sudah kita kerahkan, mungkin memang sudah saatnya untuk segera mematikan layar komputer kita atau menutup buku tulis kita.

Buka pintu kamar, dan bermainlah keluar rumah. Tak usah terlalu dipaksakan, yang penting kita sudah berusaha. Sebab, segala sesuatu yang terlalu dipaksakan itu tidak baik. Apa pun itu.

Pergilah keluar rumah dan saksikanlah segala peristiwa yang terjadi di sekitar kita: sekumpulan bocah bermain kejar-kejaran, seekor kucing mengeong di pinggir jalan, tukang sayur sedang berjualan, dan lain sebagainya.

Semoga saja dengan menyaksikan segala hal yang terjadi di sekeliling kita, energi menulis kita menjadi terpompa kembali. Dan jalan buntu yang semula menghadang kita, akan dengan mudah kita hancurkan.

Sekian. Semoga bermanfaat. Selamat menulis![Fiksiplus.com]

(Sumber ilustrasi: Freepik)